Looking for the Missing Queen

DI sebuah kerajaan terdapat sebuah desa yang berdampingan dengan hutan. Rakyat di sana hidup makmur dan sejahtera. Di dalam desa itu ada 3 orang sahabat bernama Ryu, Liona, dan Theo. Mereka hidup damai bersama penduduk lain.

Suatu hari Ryu menghampiri mereka berdua untuk berlatih memanah di lapangan. Sesampainya di lapangan Ryu bertanya, “Teman-teman kalian pernah berpikir tidak untuk menjelajahi hutan terlarang itu?“ tanya Ryu sambil menunjuk hutan gelap yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Kakekmu kan sudah pernah mengingatkan kita agar tidak masuk ke hutan itu.” Liona mengingatkan.

“Eh, kalian sudah dengar kabar tentang Ratu Violet?” potong Theo.

Ryu dan Liona menggeleng bersamaan.

“Tahu kan Ratu Violet, ratu sebelum Ratu Marta? Kabarnya saat itu Ratu Violet sembunyi-sembunyi bertemu dengan Raja dari kerajaan lain di lapangan ini. Saat menunggu Raja itu, mahkota Ratu Violet disambar oleh burung dan dibawa terbang menuju hutan terlarang itu. Ratu Violet pun panik lalu ia mengejar burung itu sampai masuk ke dalam hutan. Ratu Violet terus berlari hingga ke tengah hutan. Kabarnya Ratu Violet belum kembali sampai hari ini.“ Theo lagi-lagi membuat Ryu dan Liona merinding.

Theo melanjutkan, “Kalian tidak ingin mencari Ratu Violet?”

“Kamu gila ya? Kita ini masih 13 tahun. Kamu tidak takut tersesat? Bahkan seorang Ratu Violet pun bisa tersesat,” protes Liona dengan tegas.

“Kita bisa membuat jejak tanda di pepohonan agar bisa pulang dan tidak tersesat. Lagi pula kita semua tahu, banyak orang yang tidak suka Ratu Marta. Ratu Marta terlalu sombong dan tidak ramah seperti Ratu Violet.” Ryu memberi usulan.

“Cukup! Kalian semua sebaiknya pulang. Jangan bikin orangtua kita khawatir.” Liona mengingatkan dengan nada kesal.

“Ide Theo sangat bagus. Besok aku mau masuk hutan itu. Kalau kalian mau ikut, aku tunggu di lapangan ini tepat tengah hari.” Ryu pun berjalan pulang. Ia tak bisa menyembunyikan wajah tak sabarnya. Ia ingin segera berpetualang dan menyelamatkan Ratu Violet.

Keesokkan harinya,

“Akhirnya beres! Yosh sudah siap waktunya berangkat!” Belum sempat Ryu melangkah keluar rumah, kakeknya datang menghampiri, “Ryu kamu mau ke mana? Kok bawa tas?”

Ryu meringis kecil, sambil menggaruk kepalanya yang tidak terlalu gatal, “Eee… mau kemah di hutan sama teman, Kek. Hehe,” jawab Ryu agak ragu.

“Di hutan? Bukan di hutan Reoxsik, kan?” sambung Kakek sambil mengusap kepala Ryu.

“Hutan Re-reoxsik?” Ryu sedikit terbata.

“Reoxsik itu nama hutan terlarang yang pernah kakek ceritakan ke kamu dan teman-temanmu dulu. Berjanjilah untuk tidak memasuki hutan itu, ingatkan juga teman-temanmu.” Wajah Kakek mulai serius.

Ryu hanya mengangguk pelan.

Sesampainya di lapangan, Ryu masih agak ragu-ragu untuk menjelajah hutan Reoxsik itu. Tapi tekadnya untuk mencari Ratu Violet sama kuatnya. Karena Theo dan Liona tidak kunjung datang, ia pun melangkah dan memasuki hutan Reoxsik itu sendirian.

Theo yang sedang berlatih di halaman rumahnya masih menunggu Ryu datang, “Mana sih si Ryu. Kok belum datang-datang,” gumam Theo penasaran.

Sebenarnya Theo lupa dengan apa yang Ryu bilang kemarin bahwa ia mau menjelajah hutan terlarang itu. Sementara Liona ingat tapi tidak peduli. Ia sudah cukup kesal dengan kedua temannya itu yang susah dinasihati.

Sedetik kemudian Theo baru saja ingat apa yang kemarin Ryu katakan. Dia pun langsung lari menghampiri rumah Ryu.

“Ryu, Ryu!” teriak Theo panik.

Kakek Ryu pun membuka pintu dan terkejut, “Loh Theo? Bukannya kamu sedang berkemah sama Ryu?”

“Tidak, Kek. Kita tidak pernah punya rencana berkemah!” jawab Theo meyakinkan dirinya sendiri. Ia sering lupa.

“Lantas Ryu pergi ke mana tadi pagi?” Kakek mulai khawatir.

“Kemarin di lapangan Ryu bilang ingin mencari Ratu Violet di hutan terlarang.“ Theo panik.

Kakek terduduk dengan tubuh gemetar. Ia takut kehilangan Ryu. Ia takut Ryu tersesat dan tidak pernah bisa pulang.

“Kek, ini semua salahku. Aku yang memberi tahu Ryu kalau Ratu Violet tersesat di hutan terlarang itu dan belum kembali. Ryu ingin menyelamatkan sang Ratu. Ia sangat mengagumi Ratu Violet. Andai aku tidak memberitahunya. Ini semua salahku, Kek.” Theo ikut terduduk dengan wajah bersalah.

“Aku akan bertanggung jawab karena aku seorang lelaki. Aku akan membawa Ryu kembali. Kakek tenang saja. Serahkan semuanya padaku.” Theo menatap ke kejauhan, “Kek, aku berjanji akan membawa Ryu pulang,” ia pun berlari menuju rumah Liona.

Sesampainya, “Liona! Kita harus mencari Ryu!” teriak Theo tergesa-gesa.

Liona pura-pura tak peduli tapi Theo bisa melihat raut muka Liona yang khawatir.

“Ayolah. Ryu itu sahabat kita. Ryu butuh bantuan kita.“

“Ini semua salahmu. Siapa suruh memancing Ryu. Siapa suruh menceritakan kejadian yang menimpa Ratu Violet. Hah! Ini semua salahmu!” Liona memukul-mukul dada Theo sambil menangis.

Theo tidak mampu lagi berkata-kata. Ia menyesal. Ia tahu ia salah. Ia hanya berdiri membiarkan Liona meluapkan kekesalannya padanya.

“Kamu benar. Harusnya aku sendiri yang menyelamatkan Ryu karena ini semua gara-gara aku.” Theo menundukan kepalanya.

“Aku akan membantumu.” Liona mengelap kedua matanya yang sembab. “Ryu adalah sahabatku. Salah siapa pun ini, aku akan tetap menyelamatkannya.”

Mereka pun mengumpulkan bekal dan barang-barang sebelum berangkat. Setibanya di lapangan, mereka melangkah memasuki hutan Reoxsik dengan agak gentar.

Ketika hari mulai gelap, mereka mendapati sebuah tanda goresan di beberapa pohon. Mereka pun mengikuti tanda tersebut. Tengah malam mereka melihat Ryu dari kejauhan, rambutnya bersinar karena terkena sinar bulan purnama. “Ryuu!”

Akhirnya mereka bertemu dengan Ryu setelah mengejarnya beberapa jam.

“Kenapa kalian di sini?” tanya Ryu agak kesal.

“Ryu, Ayo kita pulang. Kakek mengkhawatirkanmu,” ucap Theo dengan napas ngos-ngosan.

“Jadi kalian ke sini hanya untuk membawaku pulang?“ Ryu kembali berjalan.

“Keras kepala banget sih! Kita ini khawatir sama kamu!” Liona menarik tangan Ryu dengan kesal.

Tiba-tiba petir menyambar pohon di sebelah mereka. Suara gemuruh hujan dari kejauhan mulai mendekat

“Di sana ada goa! Sebaiknya kita berteduh dulu,” ajak Theo.

Sesampainya di mulut goa Theo mendengar sesuatu di dalam, “E-eh kalian dengar tidak?” Theo memastikan pendengarannya.

“Dengar apa?” ujar Liona.

“Ada suara aneh di dalam.“ Theo menunjuk batu besar di dalam goa.

Liona memberanikan diri mengintip batu besar itu dan dia melihat seekor mahluk aneh yang sedang tidur di kolam kecil. Liona seketika syok dan lari ketakutan, “Aaaa!“

“Kenapa?” tanya Ryu.

“Di balik batu besar tadi! A-ada …“ Liona terduduk ketakutan.

Ketika Ryu mengintip ternyata benar ada sesosok mahluk yang sedang berendam. Ryu pun berjalan mendekat.

“Ryu, hati-hati.” Theo menahan tangan Ryu.

“Tenanglah. Jangan jadi penakut.” Ryu melepas tangan Theo.

Tiba-tiba Ryu tersandung batu dan terjatuh. Ryu terperosok dan langsung meluncur tepat di depan mahluk itu. Mahluk itu pun bangun dan mendekati Ryu. Ryu langsung panik sampai-sampai tidak bisa bergerak

“Hei hei, apa kamu baik-baik saja?” ucap mahluk itu.

Ryu tergagap, “K-kamu bisa bicara?”

“Tentu aja. Apa kamu baik-baik saja?” tanya mahluk itu.

Ryu masih terperengah melihat makhluk aneh itu yang sudah berdiri tegap di depannya. Tiba-tiba saja mahkluk itu menyodorkan tangan kanannya, “Halo, namaku Zen. Senang bertemu denganmu. Siapa namamu?”

“N-namaku Ryu.“ Ryu menjabat tangan makhluk itu dengan ragu-ragu.

“Kamu penunggu goa ini?” tanya Ryu.

“Aku tidak tau. Aku tidak ingat. Ketika aku terbangun aku sudah ada di sini.” Makhluk itu kebingungan.

Theo dan Liona yang masih ketakutan datang.

“Jangan takut. Aku tidak akan memakan kalian,“ ucap Zen.

“Ba-baiklah.“ Liona memberanikan diri mendekat.

“Aku baru tahu jika ada yang tinggal di sini,“ ucap Theo.

“Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa masuk ke hutan ini? Inikan salah satu dari 10 hutan terlarang,” tanya Zen.

“Kami mau mencari Ratu Violet dari kerajaan Luca.“ Ryu kembali semangat.

“Kami? Aku dan Theo hanya mau membawa pulang Ryu.’ Liona mempertegas situasi.

Ryu melirik jengkel.

“Ratu Violet? Aku pernah melihat seorang wanita berlari di mulut goa seperti sedang mengejar sesuatu.“ Zen mengingat-ingat kembali kejadian setahun yang lalu. Ia bisa mengingat siapa dan apa saja yang terjadi di sekitar goa.

“Benarkah? Ratu sedang mengejar seekor burung yang mencuri mahkotanya.” Ryu menyambungkannya dengan cerita yang pernah disampaikan Theo.

“5 hari yang lalu saat aku berjalan-jalan di dalam hutan, aku melihat patung. Patung itu mirip sekali dengan wanita itu. Patung itu sudah berlumut.“ Zen mengingat-ingat kembali.

“Di mana patungnya?’ Ryu semakin antusias.

“Tidak jauh dari sini. Tapi apa kamu yakin ingin mencarinya?“ Zen meyakinkan.

“Tentu! Tujuanku ke sini memang untuk mencari Ratu.“ ucap Ryu tegas.

“Haduh! Dasar keras kepala! Theo, bagaimana?“ tanya Liona.

‘Tanggung, kita sudah di tengah hutan. Akan sangat memalukan jika kita pulang dan meninggalkan Ratu padahal kita sudah mendapat petunjuk sedekat ini.” Theo meyakinkan Liona.

“Aku tidak mau bertanggung jawab jika nanti terjadi sesuatu. Aku ke sini hanya mau membawa pulang Ryu.” Liona mengingatkan dengan muka kesal.

“Liona. Terima kasih sudah sangat peduli padaku. Tapi aku tidak ingin pulang tanpa hasil apa pun. Aku ingin membawa Ratu pulang. Aku yakin jika kita bekerjasama kita pasti bisa.” Ryu menggenggam kedua tangan Liona.

“Huh ….” Liona menghembuskan napasnya lalu memeluk Ryu.

Beberapa jam kemudian hujan pun reda. Mereka melanjutkan perjalanan untuk menemukan patung itu. Mereka dipandu oleh Zen.

“Ryu, kenapa kamu menggores semua pohon yang kita lewati?” tanya Zen.

“Supaya kita bisa pulang.” Liona juga ikut menggores beberapa pohon.

Setelah semalaman berjalan, mereka melihat ada goa kecil di dekat semak-semak. Mereka pun memasuki goa itu dengan memakai senter, “Patung itu ada di dalam goa,” Zen berjalan masuk.

Setelah beberapa meter masuk ke dalam, ada sebuah patung besar yang sudah berlumut berdiri di tengah-tengah. Ryu pun berjalan mendekati patung tersebut. “Patung apa ini, kok bisa mirip sekali dengan ratu Violet.”

Karena Ryu sangat penasaran dengan patung itu, Ryu pun memegang dan tidak sengaja menekan sebuah tombol yang ada di perut patung itu. Patung itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata. Seketika ada portal terbuka yang langsung menyedot tubuh Ryu.

Di dalam portal sayup-sayup Ryu melihat sesosok wanita yang sangat cantik mendekatinya.

“Ratu Violet?” Ryu masih tidak yakin.

“Kamu siapa? kok bisa masuk ke sini?”

Ryu masih bengong.

“Maaf, kamu pasti kelelahan. Aku seharusnya tidak langsung menanyaimu macam-macam. Kita ngobrol di istana saja ya,” bujuk Ratu.

Sesampainya di istana, Ryu disuruh menginap. “Kumohon menginaplah di sini. Aku kesepian.” Ratu Violet memohon sambil menggenggam kedua tangan Ryu. Matanya berkaca-kaca. Ratu nampak sangat kesepian dan butuh teman.

“Ratu. Saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya harus kembali. Teman-teman saya pasti mencari saya.“ Ryu teringat teman-temannya. Namun bagaimanapun juga, Ryu tak bisa menolak perintah Ratu. Ia akhirnya menginap selama 2 hari.

Saat Ratu membawakan pakaian ganti, ia curiga ketika melihat pakaian Ryu, “Pakaianmu kok aneh ya. Aku belum pernah melihatnya di seluruh kerajaan ini. Apa kamu benar-benar dari kerajaan ini?”

Akhirnya Ryu pun menceritakan semua kejadian yang ia alami pada Ratu.

Di tengah-tengah bercerita, “Sudah jam satu. Maaf, aku harus pergi.” Ratu Violet pun beranjak dan langsung lari.

“Ratu mau ke mana?“ tanya Ryu penasaran.

“Nanti jam dua siang Raja akan datang. Kami sudah membuat janji untuk bertemu di lapangan,” jawab Violet sambil berlari. Ratu kegirangan dan wajahnya nampak berseri-seri.

“Dia mau bertemu dengan Raja di lapangan?” batin Ryu.

Kejadiannya mirip seperti yang diceritakan Theo. Saat menunggu Raja, mahkota Ratu akan dicuri oleh seekor burung.

“Tunggu Ratu! Apakah saya boleh ikut? Kumohon. Saya kesepian di sini sendirian.” Ryu memohon dengan wajah memelas. “Aku akan mencegah burung itu ketika hendak mencuri mahkota Ratu.”

“Baiklah, tapi ketika Raja tiba kamu harus segera kembali ke istana, ya.“ Ratu Violet mengulurkan tangannya mengajak Ryu berjalan bersama.

Saat menunggu di lapangan, benar apa kata Theo, tiba-tiba ada seekor burung yang menyambar mahkota Ratu. Bahkan Ryu tidak menyadari kedatangan burung itu. Burung itu langsung terbang kencang menuju hutan Reoxsik.

“Mahkotaku!” Ratu Violet spontan teriak.

Refleks Ratu berlari mengikuti burung itu.

“Tunggu Ratu! Jangan masuk ke hutan itu!“ Ryu menahan tangan Ratu Violet. “Biar saya yang mengejar burung itu! Percayalah pada saya. Ratu tunggu Raja di sini saja.“ Ryu meyakinkan.

Ryu pun langsung berlari mengejar burung itu. Ryu tidak ragu sama sekali sebab ia sudah menghapal jalan di hutan itu. Beberapa kali Ryu melempar kerikil ke arah burung itu untuk mengganggu arah terbangnya. Tiba-tiba burung itu menabrak ranting pohon dan mahkota Ratu terjatuh ke semak-semak.

Ryu langsung melompat ke semak-semak itu tanpa ragu. Setelah menemukannya ia bergegas kembali.

“Ini Ratu, mahkotanya.“ Ryu membersihkan rumput-rumput kering yang sedikit menempel sebelum menyerahkan mahkotanya kepada sang Ratu.

“Terima kasih banyak, Ryu! Untung kamu ada di sini.” Ratu Violet memeluk tubuh Ryu begitu erat. Ia sangat bersyukur baru saja mendapatkan teman yang amat setia.

Tak lama kemudian sang Raja tiba dan Ryu kembali ke istana.

Langit pun mulai petang.

Setibanya Ratu di istana, “Ratu saya mau pamit pulang. Tugas saya sudah selesai di sini.“ Ryu membungkukkan badan.

Ryu sadar, dia tidak sedang bersama Ratu yang ia cari. Ratu yang sedang ia temui memiliki dimensinya sendiri. Ia punya istana dan alur hidupnya sendiri. Ryu sudah menyelamatkan Ratu saat hendak masuk ke hutan. Ia menyelamatkan Ratu yang ada di dimensi ini, bukan dimensi tempat Ryu hidup. Jadi Ryu harus segera kembali ke dimensinya sendiri.

“Tunggu. Aku akan mengantarmu.” Ratu Violet pun mengantar Ryu ke tempat awal mereka bertemu.

Sesampainya di sana, “Lihat portalnya sudah terbuka kembali.“ Ryu bergegas lari karena portal itu semakin mengecil.

Ratu Violet berhenti dan melambaikan tangannya. Ia sebenarnya tak ingin kehilangan Ryu. Tapi Ryu punya teman-teman yang sedang menunggunya.

Ryu membuka mata dan melihat ke sekitaran. Ia masih ada di bawah bukit. Setengah hari perjalanan dari goa tempat ia bertemu Zen. “Kok aku di sini? Bukannya aku sudah masuk ke dalam goa tempat patung Ratu Violet?” batin Ryu.

Tak jauh dari sana Ryu melihat teman-temannya sedang berpencar memanggil-manggil namanya.

“Ryu … Ryu ….”

“Teman-teman! Aku mau menunjukkan sesuatu!” teriak Ryu buru-buru sambil berlari.

“Ryu, kamu dari mana saja? Saat kita bangun tadi kamu sudah tidak ada.” Liona kembali marah.

“Aku baru saja bertemu dengan Ratu Violet. Aku menginap selama 2 hari di istana. Kalian pasti khawatir mencariku.”

“Mimpi apa kamu semalam? Kami baru bangun 3 jam lalu. Pas bangun kamu sudah tidak ada.” Theo memastikan tubuh Ryu tidak ada yang terluka.

“Cuma 3 jam? Perasaan–“

“Lain kali jangan meninggalkan kelompok sesuka hati. Pasti kamu pergi dan ketiduran tadi. Kalau ada hewan liar bagaimana?” Liona memarahi Ryu.

Ryu juga merasa tidak yakin. Apakah itu hanya mimpi? Ryu hanya diam dan meminta maaf. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

“Ryu, lihat. Di dalam goa kecil itu aku dulu melihat patungnya.” Zen menunjuk goa di depan mereka.

Dan benar saja. Itu goa yang pernah Ryu masuki. Di dalamnya ada patung Ratu Violet.

“Tidak salah lagi. Itu bukan mimpi. Atau semua ini hanya de ja vu?” batin Ryu.

Mereka pun langsung memasuki goa dan mendapati patung itu berdiri di tengah-tengah.

“Teman-teman, di bagian perut patung ini ada tombol. Dua hari lalu aku tidak sengaja menekannya lalu ada portal terbuka. Tiba-tiba aku terseret masuk ke portal itu. Saat aku di dalam dimensi portal itu aku bertemu dengan Ratu Violet. Di sana aku menyelamatkannya saat Ratu hendak masuk ke hutan Reoxsik.” Ryu meyakinkan teman-temannya sekaligus dirinya sendiri. Ia benar-benar yakin pernah mengalami situasi itu.

“Jangan bercanda. Tidak mungkin hal konyol macam itu ada. Kamu hanya bermimpi, Ryu.” Liona menyentuh pundak Ryu. Ia merasa kasihan pada Ryu yang nampak sudah frustasi mencari Ratu Violet.

“Hutan ini termasuk 10 hutan terlarang. Semua hal bisa terjadi di hutan ini.” Zen menatap mata Ryu. Ia melihat Ryu sungguh-sungguh. Ryu tidak sedang bercanda.

Liona pun meraba-raba patung itu untuk mencari tombol yang Ryu maksud. “Mana? Enggak ada tuh.”

“Tapi beneran. Aku tidak bohong.” Ryu mulai kesal karena ia tidak dipercayai.

“Sudahlah. Kita sampai di sini saja. Patung ini tidak memberi petunjuk apa pun. Sebaiknya kita bergegas pulang. Kasihan kakek sudah menunggu kita.” Theo mencoba menengahi.

Ryu terduduk dan menangis. Ia kesal karena semua tidak berjalan lancar. Padahal ia benar-benar merasa sudah bertemu dan menyelamatkan Ratu Violet.

“Ryu. Tolonglah. Aku sudah berjanji pada kakekmu untuk membawamu pulang. Ini semua di luar kemampuan kita. Sebaiknya kita minta kakekmu untuk melapor ke kerajaan bahwa kita menemukan patung Ratu Violet di sini. Biar pihak kerajaan yang menindaklanjuti.” Theo berusaha membujuk Ryu.

“Bagaimana jika mereka tidak percaya? Kita hanya anak kecil!” teriak Ryu.

“Tenanglah. Aku membawa kamera tua milik ayahku. Semoga masih berfungsi. Kita tinggal memotret patung itu dan menunjukannya ke kerajaan.” Theo mengeluarkan kamera pelat basah berkotak kayu yang cukup besar dari tasnya. Di bawahnya tertulis angka tahun 1871. Kamera ini hasil modifikasi kamera pelat kering sebelumnya.

Dengan berat hati, Ryu pun mengangguk.

Setelah memotret patung itu dan potret mereka bersama, mereka pun berjalan pulang.

Saat melewati goa tempat Zen tinggal, “Loh Zen. Ayo, kenapa kamu berhenti?”

“Teman-teman terima kasih ya sudah mau berteman denganku. Maaf hanya sampai di sini saja. Aku tidak bisa meninggalkan hutan ini. Sudah tugasku menjaga hutan ini.” Zen tersenyum dan melambaikan tangan.

“Terima kasih sudah mau memandu jalan kami.” Ryu berlari dan langsung memeluk Zen.

“Sampai jumpa. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti.” Zen menenangkan Ryu yang sudah tersedu-sedu di pelukannya.

“Bye-bye, Zen.”

Ryu, Liona, dan Theo melanjutkan perjalanan mengikuti tanda di pohon. Menjelang pagi mereka sudah dekat dengan pedesaan. Liona langsung berlari karena tidak sabar untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di lapangan, “Yes! Akhirnya kita berhasil keluar. Aku tidak menyangka kita akan berhasil.” Liona melompat-lompat girang.

“Ayo kita harus segera pulang. Kasihan kakek dan orangtua kita yang sudah menunggu,” tambah Theo.

Sedangkan Ryu masih memandangi hutan Reoxsik yang kabutnya mulai menyingkap terkena matahari pagi di belakang. Sebenarnya hutan terlarang itu tidak semenakutkan yang orang-orang bilang.

Setelah Ryu kena marah kakeknya di rumah karena sudah berbohong, kakeknya Ryu melaporkan kejadian yang Ryu dan teman-teman alami. Penemuan patung mirip Ratu Violet itu juga dilaporkan ke kerajaan.

Dua minggu kemudian, Ratu Violet berhasil ditemukan dengan keadaan yang memprihatinkan. Ratu pun dibawa ke istana dan dirawat selama 1 minggu. Setelah Ratu Violet dinyatakan sembuh ia diangkat menjadi Ratu kembali, sedangkan Ratu Marta harus kembali ke keluarganya. Keluarga mereka diusir dari kerajaan karena ternyata yang mengirim burung untuk mencuri mahkota Ratu Violet adalah Ratu Marta. Ia sudah lama ingin menyingkirkan Ratu Violet sehingga keluarganya bisa menduduki kerajaan.

Setelah pelantikan Ratu Violet, Ryu mendapatkan surat dari istana, “Halo sahabatku, Ryu. Aku punya hadiah spesial buat kamu karena sudah menyelamatkanku. Datanglah besok sore ke istana. Aku mengutus kereta kuda pukul lima sore. Jangan terlambat ya.”

Satu tahun kemudian,

Setelah berlatih memanah di lapangan istana, Liona, Theo, dan Ryu menikmati senja di beranda rumah Ryu. “Sudah lama ya kita tidak menengok hutan. Zen bagaimana ya kabarnya. Kita belum memberitahunya kalau Ratu sudah kembali. Aku jadi rindu padanya.” Ryu bergumam.

“Theo, bukannya kamu menyimpan foto saat kita di hutan?” tanya Liona.

“Benar juga, sudah lama aku tidak melihat foto itu. Waktu itu kamu yang menyimpannya kan, Ryu?” Theo menoleh ke arah Ryu.

Ryu pun langsung bergegas lari ke kamar mengambil foto tersebut. Saat mereka melihat foto itu bersama-sama, ada hal yang baru mereka sadari dari dalam foto itu.

Sebenarnya siapa Zen itu?

*Cerita ini merupakan tulisan siswa Cirro Cumulus School of Life Lebah Putih Salatiga dalam proyek menulis buku bertema petualangan pada tahun ajaran 2021-2022. Seluruh ide cerita dan gambar merupakan karya orisinil penulis. Pendampingan penulisan dan editing berkerjasama dengan komunitas lintasastra.

Renata Syifa Aulia

Renata Syifa Aulia

Hai, teman teman!

Perkenalkan Namaku Renata Syifa Aulia, biasa dipanggil Tata. Aku dilahirkan di kota Salatiga, pada tanggal 22 November 2009.

Papaku bernama Riswiyanto dan Mamaku bernama Natalia Widia Mayangsari. Aku sekolah di School of Life Lebah Putih. Sekarang aku kelas Cirro Comulus atau sama dengan kelas VI.

Hobiku adalah menggambar animasi dan menulis komik. Saat ini aku sedang menulis cerita tentang perjalanan 3 sahabat yang sangat seru. Teman-teman bisa membaca selengkapnya di buku ceritaku ya.

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!