Museum Astronomi

DINAYA adalah murid terpintar kedua di sekolah. Ia beberapa kali menjuarai olimpiade nasional mewakili kota Hogwestren. Dia juga menjadi ketua klub buku di sekolah. Dinaya mempunyai 2 teman dekat bernama Jidan dan Niel. Jidan adalah atlit basket nasional. Dia murid terpintar keenam di sekolah. Sedangkan Niel adalah ketua kelas 6A. Sejak awal semester ia sudah masuk klub kacamata. Di klub itu murid-murid berkacamata berkumpul dan santai bersama. Mereka berteman sejak kecil karena bertetangga. Mereka juga memiliki minat yang sama yaitu astronomi. Bahkan mereka membangun sebuah blog untuk melaporkan hasil proyek-proyek astronomi mereka. Blog itu mereka beri nama THE SECRET ASTRONOMY.

 Mereka pernah memantau planet Venus. Proyek itu mereka namai V61126-S. Pemantauan Alpha Centauri mereka namai PXI-SUN. Semua kegiatan astronomi itu mereka kerjakan di ruang bawah tanah rumah Niel. Tugas Niel adalah menulis dan merekam video yang mereka buat selama pengamatan. Tugas Jidan membawa makanan, alat rekam, dan lainnya. Tugas Dinaya menjadi presenter dalam video yang mereka buat untuk menjelaskan fakta-fakta tentang benda-benda luar angkasa.

Suatu hari pada jam istirahat, Dinaya, Niel, dan Jidan mendiskusikan kelanjutan proyek THE SECERET ASTONOMY mereka. Mereka kebingungan mencari materi baru.

“Kita mau bedah apa lagi? Aku sudah kehabisan ide.” Dinaya membuka diskusi.

“Bagaimana dengan lubang hitam?” usul Niel.

“Pengunjung blog pasti sudah bosan. Aku saja bosan membahasanya.”

“Bagaimana dengan Uranus? Atau zodiak saja?” lanjut Niel.

“Zodiak bukan astronomi!” Jidan menaruh dua gelas es teh ke atas meja. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?” lanjutnya.

“Ide bagus! Sudah lama kita tidak pergi bareng.” Niel kembali antusias.

“Aku ada tempat bagus di daerah Denlios,” sambung Dinaya.

“Apa nama tempatnya?”

“Astronomy Garden Museum. Aku pernah lihat di internet.” Jidan memotong.

“Kapan kita ke sana?” Niel menarik tangan Dinaya.

“Eh tenang dong. Jidan mau nggak? Dia kan ketuanya.” Dinaya melirik Jidan yang super sibuk itu.

“Tidak ada ketua di sini, Nay. Kita sahabat, keluarga, dan saudara. Tidak ada yang namanya ketua-ketuaan,” kata Jidan pelan.

“Iya deh maaf, hi hi …” Dinaya nyengir memperlihatkan gigi putihnya.

Niel tidak bisa lagi menyembunyikan wajah antusiasnya. “Jadi kapan kita berangkat?“

“Besok,” kata Dinaya.

“Besok? Aku ada pertandingan.” Jidan panik sambil membuka buku berisi jadwal harian miliknya.

“He he … bercanda. Kita semua tahu besok kamu ada pertandingan. Besok lusa saja kita berangkat.”

Tiga hari kemudian mereka bersiap dan minta ijin ke orangtua masing-masing. Perjalanan ini mereka namakan ASTRONOMY FACT FINDING 13.

Seperti biasanya tugas telah dibagi rata. Tugas Dinaya adalah membeli tiket bus, menyewa tenda, membayar angkutan umum, dan urusan sejenisnya. Tugas Niel adalah dokumentasi dan mencatat seluruh perjalanan. Tugas Jidan adalah mengurus kebutuhan konsumsi dan obat-obatan.

Tepat pukul 09.18 mereka berkumpul di terminal. Bus menuju kota Denlios dari Hogwestrn datang pukul 09.22.

“Tidak ada peralatan yang tertinggal kan?” Dinaya memastikan.

“Porsi makan 3 orang untuk 10 hari sudah. Obat-obatan sudah. Tidak ada yang tertinggal.” Jidan kembali mengecek tas.

“Lama sekali 10 hari. Kita kan hanya 7 hari! Untuk apa 10 hari? Bikin berat tas aja,” gerutu Niel saat membantu menaikan tas Jidan ke bagasi.

“Berisik! Urusi saja peralatanmu. Siapa tahu nanti kita tersesat.“

“Hussss! Jangan ngomong gitu!”

Jidan sontak menutup mulutnya dengan kedua tanggannya. Ia ingat omongan adalah doa. Ia ingin sekali menarik kata-kata itu lagi. Libur sekolah hanya dua minggu. Mereka tak mau pulang terlambat dan tidak bisa ikut pembagian kelas semester depan.

“Niel? Sudah semua?” Dinaya melirik tas milik Niel.

“Sudah semua. Tidak usah kusebutkan apa saja barangnya. Pokoknya sudah semua. Tenang saja.” Niel meyakinkan.

“Baiklah. Itu bus kita sudah datang.” Dinaya menunjuk bus warna putih biru yang baru saja masuk ke terminal. Mereka bertiga memasuki bus itu dan duduk di kursi H2 H3 H4. Kursi mereka berdekatan dan berada di tingkat dua.

 Setelah setengah perjalanan bus mereka berhenti di rest area.

“Kalian mau makan?” tanya Dinaya.

Niel yang baru saja bangun tidur sontak mengelus-elus perutnya. “Iya, aku lapar.”

“Kalau nyalain kompor ribet. Kita sudah sampai di kota Java. Di sini kabarnya makanannya enak-enak. Sebaiknya kita coba makanan di sini.” Dinaya melihat-lihat sekeliling mencari tempat makan.

R.M. BU SITI

“Ah itu saja. Ayo.“ Dinaya menarik tangan Niel dan Jidan.

“Silakan menunya.” Seorang pelayan paruh baya menyodorkan menu makanan di meja mereka.

“Aku mau sop iga dan es teh manis.“  Dinaya menunjuk gambar paling atas.

“Aku pecel lele dan es jeruk.”

“Es teh dan soto.”

“Baik. Mohon ditunggu.” Pelayan itu mengambil menunya kembali. Sambil menunggu, dari kursi makan mereka bisa melihat langsung koki yang sedang masak di dapur.

Mereka sampai di kota Denlios pukul 14.12. Setelah turun dari bus, mereka harus mencari angkutan umum yang akan membawa mereka ke daerah Viesel. Di sana ada sebuah bukit yang lapang dan cocok  untuk berkemah.

Setelah 1 jam perjalanan tepat pukul 16.10 mereka sampai di Viesel. Mereka harus mendaki bukit selama 2 jam.

Selama mendaki mereka bisa melihat matahari yang baru saja terbit dari ketinggian. Sinarnya keemasan dan membelah kabut yang menyelimuti bukit.

Tiba-tiba,

“JIDAN!” Niel refleks menahan tangan Jidan dan langsung menariknya.

Jidan memegang pergelangan kakinya dan meringis kesakitan. Kakinya terkilir dan lecet. Hampir saja ia terperosok ke jurang.

 Niel langsung mengambil P3K dan mengeluarkan obat merah dan perban.

“Ji, masih bisa lanjut?” tanya Niel.

Anggukan pelan Jidan membuat Dinaya tidak begitu yakin. “Kita berhenti dulu sekalian istirahat.”

Niel merangkul Jidan ke sebuah pos untuk berbaring. Setelah itu mereka pun mengeluarkan kompor portabel untuk menghangatkan air.

“Bagaimana, Niel? Kita turun saja ya,” usul Dinaya.

Mereka berdua melihat Jidan masih kesakitan. Sepertinya kakinya terkilir parah. Dulu kabarnya saat pertandingan Jidan juga pernah terkilir di kaki kirinya. Mereka khawatir jika Jidan tidak bisa bermain basket lagi.

“Sebaiknya kita panggil petugas kesehatan.” Niel pun langsung menuju ke pos komunikasi untuk meminta bantuan. Setelah satu jam bantuan datang. Mereka membawa Jidan ke rumah sakit.

Setelah semalam menginap keadaan Jidan mulai membaik. Kata dokter, hanya terkilir ringan tidak ada fraktur tulang.

Setelah keluar dari rumah sakit, mereka kembali membicarakan proyek mereka.

“Bagaimana?” tanya Niel.

“Apanya?“

“Ya proyek kita ini. Pulang atau lanjut?”

“Aku sudah sembuh kok. Aku sudah biasa kena cidera kaki sepert ini. Tenang saja.“ Jidan meyakinkan.

“Kita tidak perlu berkemah di bukit. Kita menginap di hotel saja. Setelah dari hotel, kita langsung menuju ke Astronomy Garden Museum.” Dinaya mengambil jalan tengah. Dia tidak mau mengambil resiko. Melihat Jidan meringis kesakitan sudah membuat Dinaya merinding.

Setelah 3 jam perjalanan dari rumah sakit akhirnya mereka sampai.

“Waow …. “ Jidan terpesona. Seketika rasa sakit kemarin terbayar tuntas.

Akhirnya setelah membeli tiket dan meminta ijin ke penjaga, mereka mulai membuat video.

“Siap, Nay?“ Niel mengarahkan kamera.

“Siap.” Dinaya berdiri di depan bola planet Jupiter yang sangat besar. Hampir seperempat aula utama museum

Jidan memegang kertas yang akan Dinaya baca di belakang kamera.

Akhirnya mereka berhasil menuntaskan proyek ini meski harus melalui banyak perjuangan. Proyek ini mereka namai JX-TER. Planet Jupiter menjadi bahan utama video mereka.

*Cerita ini merupakan tulisan siswa Cirro Cumulus School of Life Lebah Putih Salatiga dalam proyek menulis buku bertema petualangan pada tahun ajaran 2021-2022. Seluruh ide cerita dan gambar merupakan karya orisinil penulis. Pendampingan penulisan dan editing berkerjasama dengan komunitas lintasastra.

Riza Pradaningrum

Riza Pradaningrum

Halo aku Riza Pradaningrum, Aku lahir di Salatiga tanggal 6 Desember 2008. Aku suka memasak atau lebih bisa disebut hobi. Aku juga suka dengan hal-hal berbau tekhnologi dan astronomy. Aku juga suka boyband Korea seperti NCT dan lainnya.

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!