Protect Our Nature

“Baiklah anak-anak. Penjelasan yang profesor sampaikan apakah sudah dipahami?“ 12 anak serentak mengangguk.

Profesor Sheika mengakhiri kelasnya tanda bell istirahat sebentar lagi berbunyi. Murid-murid di Akademi langsung memenuhi kantin.

“Tadi Profesor Sheika kan bilang, ujian tahun ini mesti buat kelompok 6 orang kan?“ Greyrat, salah satu murid bertanya kepada teman yang ada di sebelahnya.

Pelajaran kedua diampu oleh seorang profesor yang dikenal sebagai profesor paling receh di Akademi. Sepulang sekolah, anak-anak berencana mengumpulkan beberapa tanaman herbal untuk ujian minggu depan. Karena besok akhir pekan, mereka sekelas datang ke taman kota. Mereka mencari 8 tanaman yang tercantum di dalam buku yang diberi oleh wali kelas mereka.

“Sudah dapat  nih,“ ucap Tiara, salah satu siswi popular Akademi Yueei.

“Berarti tinggal?” Daniel teman dekat Tiara menghitung sisa tanaman yang harus mereka kumpulkan.

”Tiga lah!” jawab Grace, teman masa kecil Tiara.

1 jam kemudian mereka berhasil menyisakan 1 tanaman. Mereka pun istirahat di café dekat taman.

 “Emm…  Aku green tea latte aja,“ ucap Alan.

“Aku sama deh,” sambung Rey.

Tiara dari tadi mengamati bunga yang dipajang di cafe yang mereka singgahi. Setelah beberapa kali menyamakannya dengan gambar yang di buku, ”Guys!” Tiara memanggil teman-temannya.

“Itu!“

Mereka pun meminta ijin ke pemilik café untuk minta sedikit sampel tanaman herbal itu untuk memenuhi tugas mereka.

“Akhirnya. Bisa pulang“ Grey kembarannya Greyrat langsung meregangkan tangannya.

Esoknya di Laboratorium,

“Baik anak-anak. Untuk pembahasan kita kali ini adalah membuat ramuan duplicator.“ Professor Sheika menjelaskan.

Setelah ramuan selesai mereka langsung menuangkannya ke tanaman yang mereka dapatkan kemarin. Dan wala! ramuan itu berhasil! Mereka langsung membagi tanaman herbal dan ramuan yang masih tersisa.

“Untuk ujian kali ini, saya akan membagi beberapa kelompok berisi 6 anak, ” ucap Prof. Sheika.

 “Untuk kelas 1-A Divisi Penelitian, kelompok yang pertama, Tiara Trufia,  Alan Ascart, Grace Debbiera, Daniel Greyzo,  Vinetta Mikaru, dan Violetta Mikaru. Kelompok kedua, Greyrat Xi, Grey Xi, Rey Eward, Raisa Putry, Caca Sima, dan Cici  Sima,” Prof. Sheika berhenti sejenak untuk membalikan lembar kertas yang dipegangnya, “Oh ya, kekuatan kalian boleh digunakan selama ujian berlangsung.”

Di Academy Yueei mereka menerima anak yang memiliki kekuatan atau bakat tertentu.

“…berikutnya kelompok 3 dari kelas 1-2 dari Divisi kesehatan, Andika Kasela, Evan Eward, Reza Hazel, Iriana Whexi, Quinetta Whexi, dan Praisy Rebeca. Kelompok terakhir, kelompok 4 kelas 1-C dari Divisi Pahlawan, Angelita Vriata, William Smith, Riko Yelana, Rika Yelana, Izuyu Shuzina, dan Olivia Efrixia.”

“Nanti kalian akan diberikan kartu kelompok oleh panitia. Ujian ini akan berlangsung selama seminggu.” Professor Zero melanjutkan.

Dengan sigap mereka mengambil tas yang sudah disiapkan. Mereka diberikan 6 tenda untuk setiap tim.

Setelah perjalan dari sekolah menuju ke hutan Pluvia Silva, mereka langsung mencari tempat untuk berkemah. Sayangnya tak ada satu tempat pun yang cocok dengan tim Divisi penelitian. Mereka lalu memutuskan untuk masuk lebih dalam ke hutan. Setelah berjalan cukup lama, mereka menemukan pepohonan terbakar di tengah hutan. Tiara, ketua kelompok pun langsung menghubungi Prof. Sheika. Setelah Prof. Sheika dan tim datang, mereka bahu membahu mengevakuasi binatang yang terjebak dan ketakutan.

Prof. Sheika lalu meminta kelompok 1 untuk mencari tempat lain untuk berkemah. Setelah memadamkan api, mereka mendapat tempat yang cocok untuk memasang tenda. Tempat yang mereka dapatkan terlihat asri bahkan hewan-hewan mendekat tanpa merasa takut. Suara gemercik air di sungai sangat pelan dan tenang. Mereka akhirnya membangun tenda di sana.

Setelah menyalakan api unggun dan mendirikan tenda, Grace dan Violetta memasak ikan yang diperoleh Daniel dan Alan saat memancing di sungai. Tiara dan Vinetta menyiapkan alat-alat penelitian lab. Alan dan Daniel sibuk memasang pengaman di sekitar tenda supaya hewan buas tidak mendekat.

Pagi harinya, mereka disuguhi matahari yang terbit dari sela bukit.

“Alan boleh minta tolong gak?“ Tiara hendak menyalakan api namun pemantiknya bermasalah. Ia pun meminta bantuan Alan. Alan memiliki kekuatan api.

“Mau masak air? Pakai esku saja.” Daniel menawari bantuan. Kekuatanya adalah menciptakan es.

Semua anak punya kekuatan yang berbeda-beda. Grace punya lisrik, Violetta bisa mengeluarkan tanaman berduri, Tiara menciptakan shadow. Shadow miliknya bewarna hijau agak putih dan bisa membuat tanaman hidup kembali.

“Tiara. Tolong Daniel bangunin.” Grace minta tolong.

“Siap.” Tiara mendapat ide untuk menjahili Daniel dengan Quirk miliknya. Bayangan putih blasteran hijau keluar dari tubuh Tiara. Bayangannya menyelubungi tenda Daniel. Dan seperti bisa, Daniel akan mengira itu adalah kekuatan jahat yang hendak memperangkap tubuhnya.

Sebelum pergi meneliti, Violetta menanam semacam tanaman untuk menandai lokasi mereka berkemah. Mereka berjalan menuju tenggara. Tujuan mereka hari ini adalah mencari kucing Bakau. Ras kucing yang bisa berenang di air. Mereka berjalan hampir satu setengah jam dari lokasi berkemah

“Kok gak ketemu-ketemu ya?” Daniel mulai mengeluh.

“Kok tanya aku,“ ucap Grace kesal.

“Gaes sini deh.“ Tiara memanggil teman-temannya dari balik pohon jati yang besar dan rimbun. Sontak semua menoleh ke arah Tiara dan Vinetta.

“Apa?“ Violetta yang penasaran berjalan mendekat.

“Lihat apa yang aku temukan.“ Tiara girang sambil menunjuk pemandangan yang ada di depannya.

Air terjun! Di bawahnya banyak ikan koi. Bebatuannya bulat dan tersusun rapi. Aliran sungainya mengalir seperti alunan simphoni. Sungguh menenangkan. Mereka pun memutuskan beristirahat dekat sungai itu. Airnya sangat bening dan bisa langsung diminum.

Setelah 20 menit duduk-duduk, mereka mendengar suara sekawanan kucing Bakau yang sedang berkerumun tak jauh dari tempat mereka istirahat. Tiara diberi isyarat oleh Alan untuk menggunakan kemampuannya menenangkan hewan liar. Tiara pun langsung mengangguk. Ia sudah melatihnya berulang-ulang bersama neneknya,

O natura potente, dacci un po’ della tua benedizione per domare questi animali!“ Tiara mengarahkan kedua tangannya ke arah sekumpulan kucing bakau itu.

Berhasil. Mantra itu berhasil!

Tiara tiba-tiba goyah. Mantra itu nampaknya memakai banyak energi. Dengan sikap Alan langung menopangnya. Teman-teman yang lain perlahan mendekati kumpulan kucing Bakau itu.

“Bisakah kau ambilkan makanan kucing yang ada di tasku,“ pinta Grace dingin.

Daniel dengan sigap langsung mengambil tas itu.

“Nih,“ sodor Daniel.

Grace membuka bagian atas tasnya. Ada sebuah kemasan. Ia lalu menuangkannya ke tanah. Kucing-kucing itu pun mendekat dengan ramah.

Violetta mendekati salah satu kucing Bakau dewasa yang sedang makan untuk mengambil sampel DNA-nya. Daniel dan Alan pergi memasang pengaman berupa tanaman merambat seperti tanaman yang mereka pasang untuk melindungi perkemahan. Tiara dan Vinetta bertugas memasang beberapa kamera pemantau. Setelah cukup mengambil beberapa sampel DNA untuk diteliti, mereka kembali ke perkemahan.

Tengah malam mereka baru tiba di tempat berkemah. Tiara, Vinetta, dan Daniel langsung merebahkan badan mereka di tenda masing-masing. Sementara Grace, Violetta, dan Alan masih sibuk dengan apa yang mereka dapatkan tadi siang.

Mereka tertidur sampai siang. Kabut semalam mulai menghilang dan lagi-lagi Tiara yang bangun pertama. Ia langsung masak sarapan menggunakan kompor dan gas kaleng yang ia bawa dari rumah. Bau harum daging sapi yang Tiara panggang membangunkan teman-temannya.

“Sarapan apa, Ti?“ tanya Daniel.

“Haish. Kau ini. Gosok gigi dulu sana!“ ucap Tiara jengkel.

“He he …. “ Daniel segera menuju sungai untuk mandi dan sikat gigi. Setelah semua selesai sarapan, mereka berbagi tugas. Tiara dan Alan meneliti tumbuhan herbal yang mereka temukan di perjalanan kemarin. Daniel dan Grace meneliti air dari air terjun. Violetta dan Vinetta meneliti DNA kucing bakau.

Di sela-sela istirahat saat malam, mereka berlatih Quirk. Setelah tiga hari meneliti, mereka langsung mengirim hasil penelitian pertama mereka ke Prof. Zero. Sembari menunggu hasil penelitian mereka dinilai, mereka jalan-jalan lagi ke tempat kucing Bakau. Mereka belum bisa pulang karena jika ada revisi dari Prof. Zero, mereka harus ambil data lagi.

Setibanya di tempat kucing Bakau, mereka disambut oleh segerombolan pemuda yang sedang bermain motor trail. Sontak Tiara kesal.

“Hei! Tempat ini hutan lindung. Motor tak boleh masuk!” ucap Tiara geram.

Mereka hanya tertawa sinis.

“Tuh lihat! Ada palang peringatan! HUTAN LINDUNG!“ Tiara menunjuk palang peringatan yang sudah mulai kusam tulisannya. “Kalian tak bisa baca?”

Saat Tiara dan Violetta memarahai empat pemuda itu Grace, Daniel, Vinetta, dan Alan mengecek beberapa tanaman yang rusak.

“Heh, bocah!” gertak salah satu pemuda di atas motornya. “Sana pulang. Nanti dicariin mama papa. Gak usah ikut campur.” Pemuda lain ikut tertawa.

“Kakinya terluka.” Grace menangis memeluk kucing Bakau di dekat pohon.

Tiara dan Violetta benar-benar tersulut emosinya, lalu sontak mengangkat empat motor pemuda itu dengan Quirk mereka. Empat pemuda itu kaget dan langsung kabur.

Setelah mengobati kucing Bakau yang terluka, mereka kembali ke perkemahan. Keesokan harinya mereka langsung menuju Tone River. Mereka memutuskan untuk mendirikan tenda untuk menginap di Tone River. Malam harinya mereka menyiapkan peralatan LAB yang mereka bawa untuk menelit air.

Di Tone River, setiap air yang mengenai batu akan mengeluarkan alunan musik. Konon katanya ada arwah penunggu yang menjaga ketat parairan Tone River, oleh karena itu Tiara mencoba berkomunikasi dengan arwah penunggu sungai itu. Tiara adalah seorang indigo seperti mendiang Ibu nya, Tifa Trufia.

Pagi harinya Alan terbangun karena silau cahaya matahari menyelinap masuk lewat kisi-kisi tenda. Tiara menyusul bangkit dari tidurnya lalu berjalan mendekati Alan. Karena Tiara masih mengantuk ia meletakan kepalanya di pundak Alan, sontak Alan terkejut dan wajahnya memerah.

“Emm Ar, Ara?” Alan mencoba membangunkan Tiara.

“Enghh. Apaan sih ah masih ngantuk!” ucap Tiara.

“Tapi ya gak di pundakku juga,“ protes Alan,

“Emang kenapa gak boleh?“

Alan tak bisa menjawab. Di lain sisi ia suka, tapi di lain sisi ia tak enak jika dilihat teman-teman lain.

Mendengar ribut di luar, teman-teman lain pun terbangun. Mereka semua memandangi Alan dan Tiara, sontak Alan melemparakan tatapan tajam kepada mereka. Mereka tahu bahwa Alan sedang tidak ingin diganggu. Kabarnya Alan memiliki garis keturunan keluarga pembunuh elite. Ia juga digadang-gadang memiliki beberapa kemampuan bertarung, tatapan mata, dan gerak cepat yang diwariskan Ayahnya, Jacob Ascrat, sang pembunuh legendaris.

Sontak teman-temannya bergidik melihat tatapan mata Alan. Mereka pun masuk lagi ke dalam tenda. Tiara bangun 10 menit kemudian. Ia baru sadar kalau dirinya tidur di pundak Alan. Wajahnya langsung memerah. Ia meminta maaf lalu pergi ke sungai untuk mencuci muka.

Teman-teman yang lain keluar tenda dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Setelah semua selesai membereskan barang-barang dan membersihkan diri, mereka memutuskan untuk mengitari area sungai untuk mencari objek yang mungkin bisa diteliti.

Tak jauh dari sungai, kelompok dari divisi Pahlawan sedang mengawasi mereka. Ketua kelompok ini bernama Angelita Vriata. Angelita Vriata atau dikenal sebagai Angel, adalah putri berdarah bangsawan. Ayahnya adalah seorang pejabat dermawan. Anggota kelompok ini terdiri dari William Smith, Hendrika Barezo, Herika Barezo, Izuyu Shuzina, dan Olivi Efrixa.

Tiara masih mencoba komunikasi dengan arwah sungai itu.

“Udah belum, Tiara?“ Violetta memastikan.

Butuh dua hari untuk membuat jembatan komunikasi dengan arwah sungai itu. Pertanda bahwa arwah sungai itu sangatlah kuat dan tertutup.

“Sabar! jawab Grace kesal. Ia sudah cukup kelelahan dan hanya dia saja yang bisa melakukan tugasnya. Tidak ada yang bisa membantu.

Tiba-tiba saja beberapa helai rambut Grace berdiri membentuk huruf C. Insting Grace mendeteksi sesuatu sedang mendekat, “Ada yang mendekat! Siaga!”

Insting Grace sangatlah kuat, sebab orangtua Grace adalah seorang ninja profesional. Mereka adalah Maia Debbiera dan Leo Alexander. Grace memiliki tiga kakak, yaitu Lilia Debbiera, Raixen Alexander, dan Jack Alexander. Grace adalah anak terakhir, ia diberi nama Grace Debbiera.

“Mereka datang!“ Grace memberi sinyal. Matanya memancarkan kewaspadaan.

Sementara itu di lokasi tim Divisi Pahlawan, salah satu kawan Angel, Izuyu Shuzina, mendengar sesuatu berdenting di telinganya.

“Angel!“ panggil Izuyu.

“Kenapa?“ Angel mengambil sikap waspada.

“Seseorang mendekat!“ Izuyu mengedarkan pandanganya.

Menurut rumor, Izuyu adalah saudara kembar Grace karena wajah dan kemampuan mereka sangat mirip.

“Siapa?“ Angel memastikan.

“Entahlah.“ Izuyu hanya bisa mendeteksi insting berupa suara. Ia tak tahu apa atau siapa yang akan mendekat.

Di lokasi lain Tiara memanggil  Daniel, “ Tolong gunakan kemampuanmu,“ perintah Tiara.

“Apa maksudmu?” tanya Daniel.

“Aku tahu matamu punya kekuatan untuk melihat jarak ribuan meter.“ Tiara sadar mata Dainel punya kekuatan yang luar biasa. Ia pernah mendapati jawaban di kertas ujian esai Daniel sama persis dengan miliknya, padahal mereka terpisah kelas dan gedung. Daniel pasti sering menggunakan matanya untuk mencontek.

Daniel ingin menyembunyikan kekuatannya, tapi karena keadaanya mendesak, ia hanya mengangguk. Ia langsung mengedarkan pandangannya dengan tatapan tajam.

“Ketemu!” Daniel melihat sekumpulan Mezzo Demone Leone alias Macan setengah Iblis mendekat. Mezzo Demone Leone kerap dijadikan hewan buruan para petualang di kota Luminosa.

Tiara langsung memberi sinyal siaga untuk menghadapi Hewan Iblis itu.

“Berapa jumlahnya?“ tanya Violetta.

“Sepuluh! Ah tidak. Ada tiga belas!“ ucap Daniel panik.

“Kita akan menyebar!“ Tiara memberi aba-aba.

Tiara dan Alan seketika berlari ke utara. Mereka diikuti dua Mezzo Demone Leone. Daniel dan Grace berlari ke timur. Mereka juga diikuti dua Mezzo Demone Leone. Sementara si kembar Violetta dan Vinetta maju ke depan.

Tiara dan Alan sampai di sebuah lapangan di tengah hutan, 150 km dari area perkemahan. Tanpa menunggu aba-aba Tiara berbalik dan berlari ke arah kiri salah satu Mezzo Demone Leone. Tak kalah cepat, Alan juga sudah berada di samping salah satu hewan Iblis itu. Tiara mengangkat tangannya untuk memberi kode kepada Alan. Alan mengangguk. Mereka sudah berlatih bersama sebelumnya sebagai tim. Mereka sudah punya bahasa sandi mereka sendiri.

Alan melompat ke atas setinggi 5 meter. Seperti yang mereka duga, hewan iblis itu juga bisa terbang.

“Ten!”

Ten adalah kekuatan tubuh bagian dalam. Ten hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu. Kota yang paling ahli dalam menggunakan Ten Adalah Kota Rutilans. Urutan kota terkuat dalam sejarah adalah kota Ignis, kedua kota Rutilans, ketiga kota Caerula, keempat kota Ventus, dan yang kelima kota Terra.

 Alan bertarung di atas udara sedangkan Tiara bertarung di bawah. Tiara sudah mengambil kuda-kuda. Jual-beli tinju pun dimulai. Tiara sempat terlempar jauh. Sedangkan di atas, Alan masih bertarung dengan desingan dua energi yang sama-sama kuat. Hewan iblis itu mulai kewalahan menghadapi serangan Alan. Saat hewan itu lengah, dengan telak Alan meninju area leher hewan iblis itu hingga terlempar ke tanah.

Alan lalu turun untuk membantu Tiara. Tiara terluka parah. Alan lantas menggendong Tiara kembali ke perkemahan. Daniel, Grace, Vinetta, dan Violetta sudah ada di sana. Mereka juga telah mengalahkan semua Mezzo Demone Leone.

Grace kembali mencoba berkomunikasi dengan arwah sungai. Setelah beberapa kali mencoba, Grace meminta semua mendekat ke arah sungai. Melihat tim Tiara mendekati sungai, tim Angel maju mengendap-endap. Tenda tempat mereka memantau berjarak 1.5.

Saat mereka sedang bernegoisasi dengan Arwah itu di bibir sungai, Angel menyuruh Rika Yelana dan Riko Yelana untuk mendorong seseorang dari tim Tiara dari belakang.

Byur!

Vinetta terdorong ke dalam air.

Byur!

Violetta juga.

Tiara sontak terkejut melihat kedatangan tim Divisi Pahlawan. Alan dengan sigap terjun ke dalam air. Violetta dan Vinetta pun dibopong ke darat. Angel masih berdiri kaget. Bagiamana bisa Alan secepat itu gerakannya.

 “Angel!” Alan memancarkan aura membunuhnya.

Rika, Riko, dan Olivia bergidik meihat tatapan itu. Tiara lantas memerintahkan teman-temannya untuk menangkap kelompok Angel dan mengikatnya di pohon.

Tak lama kemudian, mereka kedatangan Divisi Penelitian B. Dari selatan Divisi Kesehatan juga memasuki lokasi mereka.

“Kami dan Divisi Penelitian B sudah menyelesaikan tugas kami. Reza Hazel dari Devisi Penelitian B berkomunikasi dengan arwah penunggu pohon merah tempat kami mengambil sampel. Kata arwah itu hutan ini sedang berada di ambang kepunahan. Hazel, siapa namanya tadi?”

“Rrraja Cobolorum,” jawab Reza Hazel gugup.

“Kita di sini tidak untuk bertarung!” protes Tiara.

“Apakah kalian tadi diserang Mezzo Demone Leone?” tanya ketua Divisi Kesehatan.

Semua anggota Divisi Pahlawan dan Divisi Penelitian saling bepandangan. Mereka melihat tubuh Tiara masih tergores bekas cakar.

“Raja Cobolorum dan kaumnya berencana menarik banyak manusia untuk membuka banyak lahan hutan dan membangun gedung-gedung serta jalan-jalan. Raja Cobolorum kesulitan mengendalikan hewan dan pepohonan, jadi mereka ingin memusnahkan hutan dan mengisinya dengan manusia. Bagi mereka mengendalikan manusia lebih mudah. Setelah hutan hilang dan dipenuhi manusia, mereka akan mengendalikan semua manusia di wilayah mereka,” jelas ketua Divisi Penelitian B.

Sontak semua orang merinding. Itu adalah kabar yang sangat buruk.

“Kita harus menghentikannya segera. Profesor tak perlu tahu. Jika tahu, ia pasti memilih untuk menyelamatkan kita dan membawa kita pergi. Atau bahkan mungkin Profesor tak percaya dengan informasi ini karena datangnya dari arwah penunggu pohon,” sambung ketua Divisi Kesehatan.

“Aku tidak bohong. Aku bahkan bisa melihat samar-samar apa yang akan terjadi jika Raja Cobolorum berhasil melakukan rencananya.” Reza Hazel menggigil ketakutan.

“Aku bisa merasakannya. Ia tidak bohong.” Grace menggenggam kedua tangan Reza Hazel.

“Kalian harus membantu.” Iriana Whexi memohon pada Tiara.

Tiara hanya mendengus, “huhh menyusahkan. Harusnya kita pulang malam ini.”

“Bagaimana kalian?” Tiara menoleh ke arah kelompok Angel yang sedang terikat di pohon.

“Kami tidak tertarik,” jawab Angel ketus.

“Kalian Divisi Pahlawan. Harusnya ini tugas kalian!” bentak Daniel.

Semua kelompok Angel membuang muka. Mereka tampak malu dengan posisi mereka. Karena dendam tersembunyinya pada Tiara, Angel mengorbankan teman-temannya dan mencemari nama divisi mereka.

“Baiklah. Kami ikut.” Angel menaikan wajahnya tanda percaya diri.

Kelompok Angel pun dilepaskan. Mereka akhirnya bersatu.

“Baiklah. Tolong mendekat.” Ketua Divisi Kesehatan menyuruh semua berkumpul mengelilingi pokok kayu yang sudah tumbang membentuk meja panjang.

“Kami sudah melacak lokasi Raja Cobolorum. Tim pertama Divisi Penelitian B. Kalian hadapi penjaga Cobolorum. Di belakangnya disusul Divisi Kesehatan, Divisi Penelitian A dan terakhir kita tutup pintu goa dengan batu besar. Divisi Pahlawan akan menyamar menjadi Coloborum Vaga. Untuk penyamaran kita serahkan ke Rey dan Raisa. Sampai sini mengerti?“ Ketua Divisi Penelitian B menjelaskan.

Setelah mengerti dengan tugas masing-masing, mereka bersiap.

“Tunggu!“ Grey menghentikan langkah semua orang.

O magne deus in nomine Grey xi, da hunc famulum tua potentia linguae cobolorum.“ Grey merapal mantra untuk disematkan pada orang-orang di Divisi Pahlawan.

“Itu apa? “ Grace penasaran.

 “Mantra supaya mereka mengerti bahasa Cobolorum. Mereka harus menyamar sebaik mungkin.”

Setelah perjalanan panjang selama 2 jam, mereka akhirnya sampai di Gua Cobolorum. Mereka mengendap-endap masuk. Setelah semua masuk, mulut gua mereka tutupi dengan batu besar. Tim pertama masuk ke ruang bawah tanah. Angel dan kawan-kawannya meracuni 149 Cobolorum di pos penjagaan. Setelah itu Angel dan teman-temannya langsung melepaskan penyamaran mereka dan segera bergabung dengan tim pertama. Di bawah tanah, semua Cobolorum bertubuh lebih besar. Tingginya lebih dari 5 meter.

Praisy dan Quinetta menyusun formasi menyerang. “Tim Greyrat menyerang dari arah Timur, tim Angela dari arah Barat.” Quinetta memberi intruksi.

“Lalu tim kami akan menyerang lewat atas dan terakhir tim Tiara akan menyerang langsung lewat depan.“ Praisy menambahi.

 “Sebaiknya setiap satu tim dua orang, karena lawannya sangat banyak.“ Iriana, adiknya Quinetta, tiba-tiba mengimbuhi.

 “Baiklah. Tim pertama maju!“ Tiara memberi aba-aba. “Tim kedua dan tim ketiga bisa maju 3 menit setelahnya.“

Metallum Hasta!“ Violetta merapal mantra untuk mengeluarkan tombak besi.

Grace mengikuti mantra milik Violetta. Tiara menggunakan tangan kosong karena tenaganya sudah mulai habis. Alan, Daniel, dan Vinetta menggunakan Quirk mereka. Tiara maju bersama Alan, Grace maju bersama Daniel, Violetta bersama Vinetta. Mereka maju berpasangan.

Di kejauhan, Grey mulai terdesak. Raja Cobolorum mengamuk dan menghantamkan tangan batunya ke dinding dan tanah. Tiara dan Angel terpental jauh, “ Tiara!“ Alan berteriak panik.

“Angel!“ Izuyu dan Alan segera menghampiri keduanya.

Magnus deus, nomen meum Alanus Ascrat, sana infirmos!“ Alan merapal mantra untuk menyembuhkan Tiara dan Angel.

Alan marah besar. Wajahnya memerah. Izuyu juga mulai tak bisa mengendalikan emosinya saat melihat wanita yang dicintainya terluka.

Melihat anak buahnya tumbang satu persatu, Raja Cobolorum makin murka, “Aku Raja Mortifer, Raja kaum Cobolorum, akan mengubur kalian semua di goa ini! Aku akan menguasai hutan dan dunia kalian!”

Ia sontak menghantam langit-langit goa dengan pukulannya. Raja Mortifer melompat keluar dari goa itu.

“Ia akan segera menghancurkan Hutan Pluvia Silva!” Tiara berteriak.

Anak-anak Yueei berkumpul. Mereka mengumpulkan sisa-sisa kekuatan mereka. Dengan satu pukulan, seperempat hutan Pluvia Silva hancur.

“Aku akan menghancurkan hutan ini supaya kalian, manusia-manusia, membangun gedung-gedung di hutan ini. Kalian terlalu lama. Aku akan melakukannya sendiri. Huahaha …” Raja Mortifer menghantam semua pepohonan di depannya.

Beberapa teman Tiara sudah tidak bisa ikut bertarung. Grey dan kembarannya, Quinetta, Raisa, Rey, Cici dan Caca, dan Vinetta sudah tumbang. Tiara yang melihat teman-temannya tak berdaya jadi semakin murka.

Alan yang masih mampu bangkit ikut maju bersama Grace, Daniel, Violetta, Angel, Andika, Reza, Riko, dan Rika. Mereka mendekati Tiara. Mereka berencana mentransfer seluruh kekuatan mereka kepada Tiara. Mata Tiara pun menyala merah.

Alan memberi kode kepada divisi lain untuk membantu Tiara. Beberapa akan maju ke depan untuk melindungi Tiara. Yang lainnya mengepung Raja Mortifer dari segala arah.

Dengan kekuatan matanya, Alan mencoba melumpuhkan tubuh Raja Mortifer. Ia memanjat pohon di depan Raja Mortifer lalu berdiri di pucuk pohon. Ia mengarahkan tatapan tajamnya pada kedua mata Raja Mortifer. Karena Raja Mortifer sangat kuat, Alan sempat kewalahan mengendalikan matanya. Mata kiri Alan bahkan mulai berurat merah dan mengeluarkan darah. Beberapa waktu kemudian Raja Mortifer berhenti dan terduduk. Tubuhnya tak bisa bergerak.

Semua tim menyerang tubuh Raja Mortifer dari berbagai arah namun hanya meninggalkan goresan kecil. Kulit tubuh Raja Mortifer sangatlah keras. Seperti lempeng tembaga berwarna hitam. Ketika semua tim kehabisan tenaga, Tiara berjalan mendekat. Ia lalu menyentuh kaki kanan Raja Mortifer. Tak lama kemudian kulit Raja Mortifer mengelupas. Dari dalam kulitnya keluar akar-akar tumbuhan menjalar. Akar-akar itu turun lalu menelusuk ke dalam tanah. Tubuh Raja Mortifer menjadi pokok-pokok kayu dan kepalanya tumbuh ranting dan daun-daun yang lebat.

“Luar biasa!”

“Tiara mengubahnya menjadi pohon!”

‘Ternyata kamu punya kekuatan sehebat itu.”

“Tiara. Kamu luar biasa!”

Semua tim berteriak mengagumi Tiara yang hampir roboh. Ia kehabisan tenaga. Alan yang melihatnya langsung membopongnya.

Semua Divisi memutuskan untuk tinggal dua hari lagi di hutan. Yang masih sanggup jalan bertugas mencari tanaman herbal untuk mengobati teman-teman yang sakit. Semua saling merawat dan menjaga. Sebelum pulang, mereka harus memastikan Profesor tidak curiga dengan kejadian yang mereka alami. Jadi semua harus benar-benar sembuh sebelum pulang. Untunglah mereka berada di tengah hutan yang melimpah tanaman obat.

Dua minggu kemudian mereka semua kembali ke Hutan Pluvia Silva. Mereka membawa bibit pohon. Semua Devisi mengadakan reboisasi hutan dengan mengajak warga sekitar.

Mereka bersyukur telah berhasil menyelamatkan Hutan Pluvia Silva. Selanjutnya mereka harus merawatnya.

*Cerita ini merupakan tulisan siswa Cirro Cumulus School of Life Lebah Putih Salatiga dalam proyek menulis buku bertema petualangan pada tahun ajaran 2021-2022. Seluruh ide cerita dan gambar merupakan karya orisinil penulis. Pendampingan penulisan dan editing berkerjasama dengan komunitas lintasastra.

Hanifah Nur Aini Azhita Abror

Hanifah Nur Aini Azhita Abror

Hai namaku Hanifah Nur Aini Azhita Abror biasa dipanggil Ifa. Aku lahir tanggal 28 April 2010. Hobiku adalah manjat pohon, bersepeda, jajan, masak, bermain kucing, tidur, main HP, ngedit dan nonton anime

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!