Towards Adventure: A Step Towards the Truth

NAMAKU Sasha Hosu. Umurku tiga belas. Sahabatku namanya Lisa Koyo. Kita berdua umurnya sama. Aku suka petualangan. Setiap sudut di rumahku sudah kujelajahi. Begitu juga rumah Lisa. Aku lebih suka beraktivitas di alam. Di sana ada ruang yang luas dan tak terbatas. Aku lebih suka mengikuti naluriku daripada mengikuti jadwal asrama.

Sekarang jam 19:57. Aku sedang melihat bintang-bintang dari jendelaku. Rumahku dan Lisa bersebelahan. Lisa biasanya akan membuka jendelanya dan berteriak, “Besok jangan lupa yaaaa. Besok jam 8 malam.”

Besok malam jam 8 kami berjanji mau bertemu di dekat tempat rahasia kita. Lisa harus mengingatkanku tentang segala hal karena aku pelupa.

“Kamu sudah bilang bu Rina, Sash?” Lisa bertanya.

Bu Rina adalah orang yang mengurus anak yatim.

“Belum. Aku hanya perlu menyusup keluar,” jawabku.

Lisa menghembuskan napasnya seperti biasa, “Huff… Kamu dari dulu selalu gitu.”

Aku hanya bisa ketawa di kejauhan.

“Selamat malam, Sash.” Lisa melambaikan tangan karena sudah hampir larut malam.

“Selamat malam, Lis.” Kami berdua menutup jendela kamar masing-masing lalu mematikan lampu dan langsung tidur.

Sepulang sekolah kami menuju tempat rahasia kami. Kami mengobrol mengenai banyak hal. Setelah dua jam, kami pulang ke rumah masing-masing seperti biasa.

Pukul 19:59 aku langsung mengambil tas kecilku yang sudah aku siapkan. Aku langsung pakai sepatu lalu merangkak keluar jendela. Kamarku ada di lantai atas, tapi aku sudah biasa. Aku hanya perlu berpegangan ke selang yang di tempel di tembok luar lalu meluncur ke bawah dan mendarat ke dalam tong sampah pinggir jalan. Memang sedikit sakit sih, tapi tidak masalah. Aku sudah sering jatuh.

Aku tidak pernah merasakan sakit yang benar-benar sakit. Dulu saat aku kecil, aku pergi camping bersama keluargaku. Saat lari, aku tersandung tali tenda hingga jatuh ke bebatuan di bawah lereng. Kakiku luka dan berdarah. Sepertinya rasanya sangat menyakitkan tapi aku sudah tidak bisa mengingat rasa sakitnya. Aku kadang ingin sesekali merasakan sakit yang benar-benar sakit seperti dulu.

Sesampainya di tempat rahasia, aku langsung membungkuk dengan napas ngos-ngosan. Aku duduk di karpet yang sudah disipkan Lisa. Ia sudah di sana sejak tadi

 “Kamu telat.” Lisa duduk sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia pasti kesal.

“Jam berapa sekarang?”

“Dua puluh lebih satu.”

“HAH! baru satu menit.”

“Satu menit, dua menit, satu detik, tetap saja kamu telat,” jawab Lisa ketus.

“Iya. Maaf.”

Tempat rahasia kita sebenarnya ada di atas pohon. Ada sebuah rumah pohon tua yang beberapa tahun lalu kami temukan. Malam ini kami berdua hanya berbaring di bawah. Menggelar alas karpet dan melihat bintang.

Suasana semakin sunyi. Kami berkutat dengan pikiran masing-masing. Aku yakin Lisa sedang mengawang-awang entah sampai mana.

“Kita mau ngapain sih malam ini?” Aku mulai merasa bosan. Biasanya kita ngobrol panjang lebar. Tapi malam ini Lisa hanya ingin diam dan menikmati bintang.

“Lis. Kamu dengar sesuatu gak?”

“Enggak. Ih jangan nakut-nakutin.”

Aku yakin banget ada suara tadi. Bagaimana bisa Lisa tidak mendengarnya. Aku pun berdiri dan mulai mencari sumber suara aneh tadi.

“Sejak kapan ada pohon di situ?”

“Aku tidak ingat ada pohon di situ.”

Kami berdua kebingungan. Kami melihat ada sebuah pohon cukup besar berdiri tak jauh dari kami. Karena penasaran, aku mendekati pohon itu. Aku ingin menyentuh kulit pohonnya. Pohonnya sangat tua dan berdebu. Tapi debunya berbeda dari debu biasa. Saat aku pegang, debunya sedikit mengkilap.

 “Apa itu?” Saking fokusnya aku teriak dan melompat ke belakang.

“Lis! jangan bikin kaget.”

“Kenapa pohonnya?”

“Ini lihat.” Aku pun menunjukkan debu aneh itu pada Lisa.

“Debu yang aneh,” kata Lisa.

“Lis, ambilkan jaket dan tasku.”

Lisa menoleh dan bilang, “Tolongnya mana?”

Aku merasa sedikit kesal karena harus mengulangi perkataanku. “Tolong, ambilkan jaket dan tasku.”

“Nah, gitu dong.”

Aku berbalik badan saat melihat Lisa mengambil jaket dan tasku. Saat aku berbalik lagi, pohon tadi sudah menghilang.  Lalu ada sebuah gerbang yang terlihat seperti pohon tadi.

“Lis! lihat itu.” Lisa tiba di sampingku dengan jaket dan tasku.

“Kenapa?”

“Pohonnya berubah.”

Di tengah gerbang itu ada semacam portal. Aku makin penasaran. Aku mencoba memasukkan tanganku ke dalam portal itu.

“Sash, kamu ngapain.” Lisa tampak khawatir.

“Aku mau lihat apa yang ada di dalam.”

“Jangan! Kalau ada sesuatu di sana gimana?” Lisa menarik lengankku.

“Kalau memang ada sesuatu di sana kenapa nggak kita lihat?” Rasa penasaranku makin memuncak.

Tiba-tiba angin kencang berhembus seperti badai membawa debu dan kabut. Kami tidak bisa melihat apa-apa.

“Lis! Kamu di mana?”

Aku mendengar suara teriakkan Lisa memelan seperti menjauh, “Sash, Sasha!”

“Lis! Aku di sini!”

Karena petir menggelegar bertubi-tubi dan angin ribut, aku menutup mata. Gelap. Semuanya berwarna hitam pekat.

Beberapa saat kemudian, aku memberanikan membuka mata. Tiba-tiba badai dan petir menghilang. Aku melihat sekitar dipenuhi banyak pohon.

“Lisa!” Aku langsung mencari Lisa. Aku berusaha memicingkan mataku mencoba melihat lebih jauh. Tak jauh dari tempatku Lisa tengah terbaring.

“Lis! Bangun, Lis! Lisa!” Dengan panik, aku menggoyakakan badan Lisa.

“Sash?” Lisa masih setengah sadar. Seperti baru bangun tidur. “Kita di mana?”

“Entahlah. Sepertinya kita masuk gerbang tadi.’ Aku makin penasaran.

Kami pun bangun dan mencari tempat teduh dan nyaman karena cuaca mulai mendung. Akhirnya setelah berjalan selama dua puluh menit, kami menemukan sebuah goa.

Setelah istirahat, kami berencana menjelajahi hutan dan mencari jalan pulang.

Tak jauh dari semak-semak dekat hutan, ketika aku sedang melihat bunga-bunga tiba-tiba Lisa berteriak, “Aaaaaaaa!”

“Kenapa Lis?” Aku langsung lari menuju Lisa.

“Itu ada serangga besar di balik semak-semak!” Lisa menunjukkan jari telunjuknya ke arah semak-semak.

Karena aku penasaran aku menyibak semak yang ditunjuk Lisa. “Kamu teriak ketakutan hanya gara-gara ini?”

Lisa masih menutup matanya

“Nih.” Aku menaruh benda itu ke tangan Lisa.

“SE-SEPATU!” Lisa terkejut.

“Hahaha …. ” Aku tak bisa menahan tawa.

“I-itu tadi sepatu!” Lisa masih tak percaya.

“Iya. Bisa-bisanya kamu takut sepatu.”

“Sash, berhenti ketawa!”

“Iya, iya.” Aku berusaha menahan diri.

Lisa menatapku kaget dan ketakutan, “I-ini ada cairan di sepatunya.” Lisa terbata-bata.

Kelihatannya seperti darah. Cairan itu ada dalam sepatu dan berwarna biru. Saat aku mengamatinya lebih dekat tiba tiba sepatunya berubah. Sepatu yang kotor tadi berubah menjadi berwarna hijau dan mengkilat.

Lisa langsung merebut sepatunya dariku, “I-ini. Aku menemukannya!”

Aku kaget dan kebingungan. “Lis?”

Lisa tiba-tiba cuek dan lanjut bicara “Berarti hutan ini … Tunggu ada darah di sepatunya. Darahnya masih segar. Mungkin saja ….”

Aku makin kebingungan. Lisa tiba-tiba bersikap aneh lantas berlari menuju semak-semak tempat ia menemukan sepatu tadi. Lalu ia lari masuk hutan.

“Lis! Kamu mau ke mana?” Di kejauhan Lisa sudah menghilang ke dalam rimbun semak-semak dan pepohonan.

Aku kembali mengamati sepatu tadi. Aku melihat ada tulisan nama.

“Sally Holt.”

Tiba-tiba angin berhembus memutariku. Anginya berkilap dan bikin aku terbang. Bajuku seketika berubah. Seperti baju pelindung. Kedua kakiku dibalut sepatu yang mirip sepatu yang ditemukan Lisa tadi. Di tanganku tiba-tiba muncul pelindung kepala dan sepasang sarung tangan. Di bagian dalam pelindung kepala itu ada tulisan Sally Holt. Sama seperti di sepatu tadi.

Tak ada waktu untuk kaget dan bertanya-tanya. Aku harus menyelematkan Lisa dan membawanya pulang. Mungkin ia terkena sihir hutan. 

Setelah berlari ke dalam hutan selama setengah hari, aku melihat Lisa. Dia sedang mengamati sebuah rubah kecil. Rubah itu juga menatap Lisa seperti sedang berkomunikasi.

“Lis?” Aku menggoyangkan tanganku di depan muka Lisa. Tapi ia tidak bergeming. Bahkan ia tidak berkedip. Tiba-tiba muncul sesuatu di tangan kananku seperti semacam senjata yang warnanya selaras dengan pelindung badan yang kukenakan. Tiba-tiba senjata itu berbisik, “Enemy in fireing range.

Aku terkejut. “Musuh dalam jarak tembak?”

Aku melepaskan helmku karena cukup mengganggu pandangan. Di atas helm itu aku baru sadar ada sebuah kacamata. Karena penasaran, langsung kupakai. Siapa tahu jarak pandangku semakin bagus. Setelah kupakai aku melihat sesuatu yang aneh. Tubuh Lisa sangat lemah dan seperti orang kesakitan. Ada semacam garis yang menyambung antara Lisa dan rubah di depannya. Rubah kecil itu ternyata tubuhnya sangat besar. Rubah itu seperti menyedot energi tubuh Lisa.

Tak berpikir panjang, aku langsung menembaki tubuh rubah itu. “Beraninya kamu menyakiti Lisa!” Aku memberondong tubuh besar rubah itu dengan senjata yang kupegang. Tiba-tiba saja aku tahu cara menggunakannya. Tanpa kusadari tubuhku bersinar, begitu juga tanah yang aku injak.

“Sash?” Lisa tersadar dan nampak kecapekkan.

Aku masih sibuk menembaki rubah besar itu sambil berteriak.

“Aaaaa …. Kekuatan apa ini. Ti-tidak! Tidak mungkin ini ….” Rubah itu teriak kesakitan.

“Late Gray!” Lisa tiba-tiba berdiri dengan kuda-kudanya. Ia memegang sesuatu di tangannya dan mengacungkannya ke rubah itu. Tiba-tiba baju Lisa berubah menjadi pelindung tubuh seperti yang sedang kukenakan. Lisa langsung menembakkan jaring dari senjatanya ke rubah itu. Seperti jaring penangkap.

Tiba-tiba di kepalaku ada suara, “Hahahaha …. Bagus kekuatanku bertambah lagi. Hahaha ….”

Aku baru menyadari sesuatu, suara itu mirip seperti suara yang aku dengar saat masih di bawah rumah pohon. Belum sempat aku berpikir, sebuah cahaya keluar dari rubah itu. Jaringnya lepas. Lisa terjatuh. Aku masih berdiri sebab tiba-tiba ada sebuah lingkaran cahaya mengelilingku seperti bola.

“Haha …. Kalian tidak bisa menandingiku.” Rubah itu berdiri tegap memamerkan tubuh besarnya.

 Aku mengangkat tanganku, mengarahkannya ke Lisa. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Dan seketika, cahaya keluar dari telapak tanganku yang menyambungkanku ke Lisa. Seperti tali dari cahaya yang menyambungkan Lisa dan rubah tadi. Tapi kali ini sepertinya menyambungkan kekuatanku pada Lisa.

Tubuh Lisa tiba-tiba dikelilingi pelindung. Dia langsung berdiri lagi.

“Lis! Ayo, kita tembaki rubahnya bersama-sama!” Lisa menoleh kebingungan. Aku langsung mengacungkan senjataku ke rubah itu lagi. Kita berdua menembaki rubah itu bersama-sama.

Saat rubah itu hampir jatuh, tiba-tiba cahaya yang berwarna hitam muncul dari atas. Debu pekat menutupi tempat kami berdiri. Saat debunya mulai hilang aku melihat sayup-sayup seseorang serba hitam. Seperti bayangan. Saat ia berjalan mendekat, aku bisa melihat cukup jelas. Wajahnya bahkan juga hitam.

“Siapa kamu?” Aku memastikan.

Lisa jatuh ketakutan dan merangkak menjauhi orang itu. “I-itu” Lisa terbata-bata sambil menunjuk ke arahnya.

“Hahaha …. Sally Holt. The Peculiar Child. Sudah lama tidak berjumpa denganmu.” Orang misterius itu berkata dengan suara serak dan berat.

“Siapa Sally Holt? Siapa The Peculiar Child? Apa yang sebernarnya terjadi?” Tubuhku tiba-tiba bergeser ke belakang.

Lisa memberanikan diri untuk berdiri. Ia mengacungkan senjatanya kepada orang misterius itu meski tangannya masih bergetar. Orang misterius yang tadinya menghadap ke arahku langsung menoleh ke arah Lisa.

“Gray. Masih setia rupanya. Peri terakhir dari Clan Gray,” kata orang misterius itu.

“A-aku?” Lisa terbata-bata.

“Baiklah, tidak perlu membuang-buang waktu lagi. Waktunya berangkat. Kita akan bertemu lagi Sally Holt, Late Gray. Aku pasti akan mengambil kekuatanmu. The Peculiar Child. Sampai bertemu lagi.” Tiba-tiba ada cahaya gelap yang menyedot tubuh orang misterius itu dan rubah tadi. Aku mendongak ke atas. Aku bisa melihat ada pesawat luar angkasa yang tertutup awan tebal.

Akhirnya aku bisa menggerakkan badanku lagi. Aku merangkak menuju ke arah Lisa, “Lis, kamu gak papa?”

“I-iya” Lisa masih terbata-bata seperti orang yang baru sadar dari pingsan.

“Siapa itu tadi, Lis? Siapa Sally Holt dan Late Gray? Apa yang sebernarnya terjadi?” Aku memburu jawaban Lisa. Tetapi dia seperti menahan diri untuk menjawab.

“Hey Lis! Jawab!” Aku menggoyangkan tubuh Lisa supaya ia lekas sadar dan bisa mencerna pertanyaanku.

“Sally Holt dan Late Gray …”

“Huh? Siapa? Siapa Sally Holt dan Late Gray?”

“Sally Holt dan Late Gray ….” Lisa mengambil napas cukup panjang, “Sally Holt dan Late Gray adalah kita. Nama aslimu adalah Sally Holt. Nama asliku adalah Late Gray.” Lisa menatap mataku cukup serius.

“Sebaiknya kita kembali ke gua tadi. Aku akan menceritakan semuanya padamu.” Lisa menarik lenganku.

Petir sudah menyambar 20 kali. Aku hobi menghitung sesuatu yang muncul jarang-jarang. Aku tidak menghitung sembarang benda. Aku menghitung sesuatu yang menurutku menarik. Kenapa petir menarik? Karena seharusnya petir disertai hujan. Mereka adalah pasangan. Tapi dari tadi belum ada hujan. Di dunia nyata tidak pernah ada kejadian seperti ini.

Di dalam gua, Lisa hanya diam selama dua hari. Ia berjanji mau menceritakan semuanya padaku, tapi ia masih saja diam. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi kepada kami.

“Lis. Apa kamu siap cerita?” Lisa menoleh padaku dan seperti berpikir untuk menjawab.

“Mau sampai kapan kita berdiam diri di gua ini? Kamu bilang kamu mau cerita semuanya padaku. Ingat, Lis. Kita tidak pernah menyimpan rahasia.”

Lisa menarik napas cukup panjang. Cepat atau lambat ia pasti akan cerita, tapi sepertinya ia menunggu waktu yang tepat.

“Jadi gini…” Lisa merangkak mendekatku, “Nama aslimu adalah Sally Holt dan nama asliku adalah Late Gray, seperti kata The Nightmare.” Lisa berusaha menahan wajah khawatirnya.

“The Nightmare? Orang misterius serba hitam itu?” Aku memastikan.

Tiba-tiba petir menyambar tepat depan di mulut gua. Suasana seketika menjadi muram.

“Dulu sebelum ada dinosaurus dan manusia, ada kaum peri. Setiap peri mempunyai kekuatan yang berbeda. Karena kekuatan mereka berbeda, tingkat mereka juga berbeda. Ada seorang peri dari kaum lemah yang iri dengan peri lain. Pada suatu hari ia pergi menemui The Nightmare untuk mendapat kekuatan. The Nightmare sudah menjadi mitos turun temurun di kalangan peri. The Nightmare mempunyai kekuatan hitam. Kekuatan yang melebihi semua keluarga peri. Kecuali satu keluarga. Keluargamu. Keluarga Holt. Keluarga Holt dipercaya sebagai keluarga yang paling tua di kalangan peri. Menurut legenda, mereka adalah yang terkuat dari semua keluarga. Setiap keluarga mempunyai pemimpin. Pemimpin berganti setiap generasi. Setiap pemimpin mempunyai kekuatan yang unik dan kuat. Setiap generasi baru, pemimpinnya juga semakin kuat. Namun tidak hanya peri saja yang bertambah kuat, The Nightmare pun juga bertambah kuat. The Nightmare adalah mahluk dari alam Shisu. Alam Shisu adalah alam dimensi hitam yang sangat tua. Dulu beberapa keluarga peri bertugas menutup portal dimensi hitam itu dan menjaganya agar The Nightmare tidak keluar. Portal itu bernama Portal Sani. Portal yang dibangun oleh leluhur The Nightmare untuk masuk ke alam peri. The Nightmare adalah pemimpin dari kaumnya. Menurut ramalan, hanya pemimpin keluarga Holt yang bisa menghentikannya. Tujuan The Nightmare hanya satu, menyerap kekuatan semua makhluk di dunia ini. Dia sudah berusaha selama ribuan tahun. Tetapi dia masih belum bisa mencapai tujuannya karena satu hal. Dia perlu keluar bersama kaumnya dari alam Shisu. Sebelum itu terjadi, semua berharap pemimpin keluarga Holt segera menghentikan The Nightmare. Memang semua anggota keluarga Holt kuat, tetapi menurut ramalan yang sanggup menghentikan The Nightmare hanya pemimpin keluarga Holt. Kamu pemimpinya, Sash.” Lisa menghadap wajahku dengan wajah serius.

Aku masih belum bisa mencerna penjelasan Lisa. Ia seperti baru saja menceritakan dongeng padaku. Bagaimana bisa aku percaya. Semua nampak seperti khayalan bagiku. Tapi setahuku selama ini Lisa bukanlah pencerita yang baik. Ia tidak mungkin mengarangnya.

Aku kaget dengan apa yang dikatakan Lisa. Aku juga belum benar-benar percaya bahwa aku adalah peri yang kuat. Pikiranku penuh dengan pertanyaan yang menumpuk setinggi langit.

“Jadi, namaku Sally Holt?” Aku memastikan lagi.

Lisa hanya mengangguk.

“Lantas, kenapa namaku berubah menjadi Sasha Hosu?”

Lisa tidak menjawab. Ia semakin menundukan kepalanya menghindari wajahku. Aku sangat penasaran.

“Lis!” Aku mulai teriak. Ia harus menjelaskan semuanya padaku. Sampai hal terkecil apa pun. Tak ada yang boleh luput. Semua mesti jelas. Sebab ini menyangkut hidupku.

“Dulu The Nightmare mempercayai peri dari kaum lemah yang membuka portal Sani itu. The Nightmare kemudian memberinya kekuatan. Tetapi peri itu hanya berniat memanfaatkan kekuatannya untuk dirinya sendiri dan berpura-pura setia pada The Nightmare. Suatu hari saat The Nightmare lengah, peri itu mencoba mencuri sebuah benda tempat The Nightmare menyimpan sebagian kekuatannya. Namun The Nightmare bukanlah musuh yang mudah. Ia tahu bahwa ia akan diserang. Sejak awal ia sudah merancang pertahanan jika sewaktu-waktu peri itu menghianatinya. The Nightmare pun membunuh peri itu. The Nightmare menyerap seluruh energi peri itu hingga ke inti jiwanya.”

Aku masih mencermati seluruh cerita yang disampikan oleh Lisa. Aku berusaha menyambungkan semuanya di kepalaku untuk melihat keseluruhan ceritanya. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang nampak hilang. Ada yang tidak tersambung.

“Lis. Siapa nama peri yang terbunuh itu?” Aku memotong.

Lisa menatapku seperti kehilangan kata-kata.

“Lis?”

Tiba-tiba sebuah suara muncul di kepalaku,  “Tidak. Aku tidak seharusnya menceritakan ini. Sasha pasti akan membenciku.” Tidak salah lagi. Itu suara Lisa. Tapi kenapa aku bisa mendengar suara Lisa di dalam kepalaku? Apa aku bisa membaca pikiran orang? Kenapa dia mengatakan itu?

“Tidak ada yang tahu nama peri itu dan memang tidak ada yang boleh tahu. Ia sudah menjadi sosok yang tabu untuk diceritakan karena membuat malu kaum peri.”

Entah kenapa aku merasa kecewa dengan jawaban Lisa. Dari wajahnya, aku merasa ia tahu siapa nama peri itu, tapi tidak mau mengatakanya padaku. Aku juga merasa peri itu memiliki hubungan denganku. Mungkin dekat denganku.

Aku ingin sekali menggorek semuanya tapi aku menghargai Lisa. Aku tidak bisa memaksanya untuk menceritakan apa yang tidak ingin ia ceritakan. Ia pasti sudah menimbang-nimbang semuanya untuk keselamatan kita berdua.

“Lis. Kamu belum menceritakkan bagaimana aku dan kamu bisa berada di dunia manusia.”

Lisa menghilangkan wajah paniknya dan menoleh.

“Setelah The Nightmare membunuh peri itu, dia jadi bisa berubah menjadi peri. Ketika The Nightmare menyerap energi seorang mahluk, ia jadi bisa berubah bentuk seperti mahluk yang ia serap. Sekarang The Nightmare bisa mencapai keinginannya. Memasuki alam kita dan menyerap semua energi mahluk. The Nightmare telah memasuki portal Sani dan memasuki alam kita. Hanya peri yang bisa melewati portal Sani, karena itulah The Nightmare menyamar sebagi peri yang ia serap. The Nightmare berhasil memasuki kota Zuleq. Kota Zuleq adalah salah satu kota terkuat di seluruh negeri peri. Pusat kota Zuleq adalah jantung kota Zuleq. Masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Hort Jika Hort hancur, kota Zuleq akan hancur. Tidak ada peri yang menjaga Hort karena semua peri tahu tidak akan ada yang bisa menghancurkan Hort. Setahu mereka The Nightmare masih terkunci di dalam alam Shisu. Mereka tak tahu The Nightmare sudah berada di Hort. Menurut saksi, setibanya di kota, The Nightmare mengangkat tangan kirinya. Di tangan kirinya muncul energi berwarna gelap. Seperti putaran angin kecil. Putaran angin kecil itu semakin lama semakin membesar. Semua peri yang melihat tidak merasakan hal yang aneh. Mereka pikir itu adalah sebuah sirkus kota. Ketika putaran angin itu memenuhi langit, The Nightmare menaruh tangannya di patung Aqe. Hort kota Zuleq adalah patung Aqe. Aqe adalah nama seorang peri. Pada awal peradaban, beliau membangun kota Zuleq dan menutup portal Sani. Karena itulah peri-peri setelahnya membangun patung Aqe setelah beliau wafat. Patung Aqe adalah kebanggaan kota Zuleq. Beliau berasal dari keluarga peri terkuat. Namanya adalah Aqe Holt. Pemimpin keluarganya pada saat itu. Beliau adalah leluhurmu. Patung Aqe bukanlah sembarang patung. Di dalamnya tersimpan sedikit kekuatan yang beliau tinggalkan. Peri-peri percaya patung itulah yang membuat kota Zuleq tetap kokoh. Tapi pada hari itu, The Nightmare memegang patung Aqe dengan putaran angin besar yang berwarna gelap di tangan kirinya. Patung Aqe berubah warna. Dari warna abu-abu menjadi hitam pekat. Patung Aqe pun retak lalu pecah. The Nightmare mengambil sesuatu yang ada di dalam patung Aqe. Seperti putaran angin, bentuknya lingkaran sempurna yang berwarna cerah. The Nightmare memegang erat putaran angin cerah itu. Tapi tidak pecah. Dan putaran angin gelap yang masih di tangan The Nightmare ditaruh bersisian dengan putaran angin cerah hingga menjadi satu. Warna yang cerah tadi pun berubah menjadi warna gelap. Pada saat yang sama, ada hembusan angin kuat berdiameter hampir separuh kota. Saat itu cahaya matahari hilang. Matahari berubah menjadi gelap. Tanah-tanah kota Zuleq bergetar. Tanahnya retak lalu tanaman menjalar keluar. Tanaman itu mekar seperti bunga dan mengeluarkan monster. Semakin banyak bunga yang muncul semakin banyak monster yang keluar. Peri-peri kota yang kurang terlatih pun mencoba melawan. Perang dashyat pun terjadi. Banyak peri yang gugur. Peri-peri kota tidak cukup kuat untuk melawan The Nightmare. Yang tersisa tinggal Hale Holt. Pemimpin keluarga Holt. Ayahmu. Dia melawan The Nightmare bersama Avery Holt, istrinya atau ibumu. Mereka mampu membendung serangan The Nightmare dan memusnahkan semua monster.”

Aku tiba-tiba terhenyak. Seketika tubuhku tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah peperangan di sebuah kota. Mirip seperti yang diceritakan oleh Lisa. Banyak peri yang terbaring di tanah. Ada dua peri dewasa dan satu orang memakai jubah hitam. Di bawahnya, di jalan ada gadis kecil yang berlari ke arah peri dewasa itu. Seketika, aku merasa tidak asing. Aku pernah mengalaminya. Aku mengingat ini. Itu Ayah dan Ibu. Mereka sedang melawan The Nightmare. Lalu siapa gadis kecil itu?

“Sal! Kenapa kamu ke sini. Kamu seharusnya di Fase bersama Late!” Ibu meneriaki gadis kecil itu.

Tiba-tiba ada peri yang terbang melintas di antara Ayah, Ibu, dan The Nightmare lalu jatuh di depan gadis kecil itu. Peri itu kesakitan. Dari arah peri itu ada monster banteng yang tubuhnya sudah babak belur. Monster itu berlari ke arah gadis kecil itu.

“Sal! Pergi dari situ!” Ayah teriak dari atap gedung.

Sementara gadis kecil itu hanya duduk di tempat. Saat monster banteng itu mulai mendekat sejangkauan tangan, tiba-tiba gadis kecil itu mengangkat tangan kanan ke arah monster banteng itu. Cahaya cerah keluar dari tangan kanan gadis kecil itu. Cahaya itu mengarah lurus ke arah kepala monster banteng itu seperti pedang. Saat mengenai kepalanya, monster banteng itu berhamburan seperti abu.

Ayah dan Ibu nampak terperangah. Peri-peri di kejauhan yang melihat kaget. Mereka saja kewalahan menghadapi monster itu, bagaimana bisa gadis kecil itu bisa memusnahkan satu monster dengan tangan kosong.

Setelah itu, gadis kecil itu berlari menghampiri Ayah dan Ibu. Tapi tiba-tiba The Nightmare mencegat gadis kecil itu. Ia seperti bicara sesuatu pada gadis kecil itu. Saat hendak berkata sesuatu, pengelihatanku seperti memburam. Aku tidak tahu apa ia bicarakan. Di dalam kepalaku melintas sebuah suara. “Sal! Kak … harus … kita ….” Suaranya terpotong-potong.

Sepertinya gadis kecil itu adalah aku. Saat itu The Nightmare bicara padaku?

“Sash!” Tubuhku terasa didorong.

“Sash!”

Ternyata Lisa. Ia menggoyangkan tubuhku beberapa kali. Mungkin aku melamun cukup lama. “Lisa?”

Setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi. Seluruh kota hilang dari pandanganku. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Aku kembali di depan Lisa.

Bagaimana bisa The Nightmare mengenaliku? Seakan kami sudah sangat dekat. Dia memanggil namaku, “Sall!” saat mencegat gadis kecil itu.

Aku berusaha mengingat kejadian dua hari lalu ketika bertemu The Nightmare di tengah hutan. “Kita akan bertemu lagi Sally Holt, Late Gray. Aku pasti akan mengambil kekuatanmu The Peculiar Child.”

Kenapa dia mengancamku? Apa yang terjadi dengan kota Zuleq? Apakah itu tempat tinggalku?

Aku masih ingat suara Ayahku, “Sal! Kenapa kamu di sini. Kamu seharusnya di Fase bersama Late!” Kalau tidak salah, seingatku Late itu dari Late Gray. Nama aslinya. Pertanyaanya apa itu Fase? Kenapa The Nightmare membawakku jauh dari Hort saat pertempuran? Apa dia khawatir aku akan terluka? Tidak. Kenapa dia peduli dengan keselamatanku?

“Lis. Aku baru saja mendapat penglihatan. Aku bisa melihat semua yang kamu ceritakan. Aku merasa berada di kota itu. Apa yang terjadi dengan kota Zuleq?”

“Setelah ayah dan ibumu mengalahkan The Nightmare, pertempuran selesai. Monster-monster berhamburan seperti abu. Tetapi tanah kota retakannya makin besar. Muncul gempa bumi beberapa kali. Seluruh kota sudah tidak kokoh lagi karena Hort sudah hancur. Di sebelah tubuh The Nightmare terdapat sisa-sisa Hort. Saat The Nightmare dikalahkan, Hort yang ia pegang jatuh ke tanah. Dan itu sangat rapuh. Tanpa Hort itu, kota Zuleq akan hancur. Hale Holt menggeluarkan pedang Skyfrost. Pedang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pedang yang khusus dibuat untuk pemimpin terkuat. Saat dia mengeluarkan pedang Skyfrost. Pedang itu menyala. Cahaya kuning keluar menyelubungi pedang. Tanah mulai runtuh dan berlubang di berbagai tempat. Hale Holt mengangkat kedua tanganya ke atas lalu ia tancapkan pedang Skyfrost ke dalam tanah. Retaknya pun berhenti. Hale Holt kemudian berteriak Ave, sekarang! Hale Holt memastikan pedangnya tidak keluar dari tanah atau malah terlalu masuk ke tanah. Avery Holt mengangguk lalu membuat tanda silang dengan kedua tangan di dadanya dan menutup matanya. Seluruh tubuhnya dilindungi selubung perisai yang bercahaya kuning. Perisai itu adalah Fylch Silk. Fylch Silk adalah perisai terkuat yang dimiliki kaum peri. Tidak semua peri bisa melakukan Fylch untuk digabungkan dengan Silk. Silk tidak hanya sebuah perisai. Silk bisa dipakai untuk melindungi seluruh tubuh atau bagian tertentu. Semua peri bisa memakai Silk sederhana. Silk sederhana biasa dipakai untuk mengambang dan transportasi ke luar kota. Cara keluar dari kota Zuleq adalah memasuki portal Zeis. Portal Zeis adalah satu-satunya cara keluar dari kota Zuleq. Semua peri terbang tinggi dengan memakai Silk untuk menuju portal Zeis. Dulu kamu mendekati Hale Holt dan melakukan tanda silang tetapi hanya dengan tangan kanan. Saat pedangnya terlalu masuk ke dalam tanah karena bergetar dan semua peri belum sempat dievakuasi, kamu memegang bilah pedang Skyfrost itu. Bilah pedang Skyfrost dikenal sangat tajam. Memegang gagangnya saja membutuhkan banyak kekuatan. Tetapi kamu memegangnya dengan santai. Saat memegangnya di tangan kirimu diselubungi Silk. Lalu tiba-tiba pedang Skyfrost stabil kembali. Saat semua peri dan hewan sudah evakuasi, Avery Holt sudah tidak melakukan Fylch. Dia membungkuk kelelahan. Pedang Skyfrostnya sudah tidak stabil lagi di tangan Hale Holt. Yang bisa mengendalikannya hanyalah pemimpin keluarga Holt. Memang Hale Holt adalah pemimpin keluarga Holt, tetap tidak lagi. Sekarang pemimpin keluarga Holt adalah kamu karena kamu yang bisa mengendalikan pedang itu. Tetapi waktu itu kamu masih kecil sehingga peri-peri masih menganggap Hale Holt sebagai pemimpin mereka. Biasanya pemimpin baru benar-benar dianggap sebagai pemimpin saat berumur tujuh belas tahun. Sedangkan kamu waktu itu baru berumur lima tahun. Dan benar saja tak lama kemudian saat semua peri bersorak gembira, Skyfrost bergetar lagi. Kamu masih belum cukup bisa mengendalikannya. Kamu masih terlalu muda. Waktu itu Hale Holt dan Avery Holt ingin segera mengevakuasimu. Hale Holt tahu jika pedang Skyfrostnya ia lepas, kota Zuleq akan langsung runtuh. Dan semuanya akan musnah. Jadi Hale Holt ingin segera menyelamatkan Avery Holt dan kamu. Tetapi Avery Holt terlalu lelah untuk bergerak …”

Tiba-tiba aku mendapat penglihatan lagi. Aku mendengar sayup-sayup suara Ayahku. “Sal, kamu harus pergi dari sini. Cepat!” Aku bisa melihat Ayah mengelus rambut gadis kecil itu.

“Kamu harus segera pergi. Kamu adalah pemimpin keluarga Holt.” Ibu melakukan Fylch Silk dengan sisa tenaganya.

“Kamu harus pergi, Sal. Maafkan ibu.” Tiba-tiba Silk memutari sekeliling gadis kecil itu dan mengangkatnya ke atas menuju portal Zeis.

Ayah sepertinya tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Da melepaskan pedang Skyfrost. Dan kota Zuleq pun hancur. Kota Zuleq meledak seperti bom nuklir. Aku bisa merasakan dahsyatnya ledakan itu. Udara panasnya mengenai kulit dan rambutku.

Aku menyimak Lisa lagi,

“… portal Zeis tidak menuju ke kota lain melainkan dimensi lain. Saat kamu melewati portal Zeis, Silknya langsung menghilang. Itu menandakan bahwa peri yang melakukan Fylch sudah tiada.”

Setelah melewati portal itu, aku melihat diriku menangis. Aku juga melihat The Nightmare di sana. Di tangan kirinya ada putaran angin yang ia gunakan saat di kota. Di belakangnya semua peri berada di dalam penjara. Gadis kecil itu dan The Nightmare berhadapan. The Nightmare menaruh putaran angin itu ke tanah. Cahaya gelap langsung menyebar dari tanah. Saat cahaya gelap itu hendak menyebar jauh, ada semacam perisi gelap melingkari gadis kecil itu, The Nightmare dan peri-peri yang dipenjara. Saat cahaya gelap itu sudah menyebar di dalam perisai. The Nightmare mengangkat tangan kirinya ke atas kemudian ke tanah.

“Syfes!” teriak The Nightmare seperti mengucapkan mantra.

“Lis. Apa itu Syfes?” Aku langsung menanyakannya ke Lisa selagi tetap melihat kejadian yang muncul di dalam kepalaku.

“Syfes hanya bisa dilakukan oleh The Nightmare. Karena The Nightmare yang menciptakan Fylch Syfes. Syfes membuat peri menjadi manusia. Kekuatan peri itu akan hilang. Ia akan berpikir bahwa dia adalah manusia. Apa yang terjadi? Kamu melihat apa?”

“Aku melihat The Nightmare mengucapkan Syfes! Tapi ia membuat lingkaran perisai.”

“Kalau The Nightmare tidak membuat perisai, Syfes itu akan menyebar hingga seluruh dunia. Siapa yang terkena Syfes?” Lisa panik.

“Aku saat masih kecil dan peri-peri di dalam penjara.” Aku semakin bingung. Jadi yang menjadikan aku manusia adalah The Nightmare?

“Lis. Jadi sekarang kita ada di mana?”

“Kita berada di salah satu alam peri. Alam peri ada banyak. Portalnya juga bisa terbuat dari apa saja. Seperti pohon tadi yang berubah menjadi gerbang. Portal bisa berubah-ubah bentuk. Sesuai dengan alamnya. Alam ini kan hutan, jadi portalnya pohon. Saat peri-peri berubah menjadi manusia, mereka kehilangan kekuatan dan ingatan. Peri yang melakukan Fylch Syfes akan mendapat kekuatanya kembali. Kekuatanmu masih ada tapi kamu tidak mengingatnya. Aku satu-satunya yang masih mengingat karena aku diberi kekuatan oleh ayahmu. Keluarga Gray adalah keluarga satu-satunya yang diberi sebagian kekuatan keluarga Holt. Pemimpin keluarga Gray ditugaskan untuk melindungi pemimpin keluarga Holt selama hidupnya. Aku adalah pemimpin keluarga Gray. Aku diberi kekuatan saat aku lahir untuk menjagamu. Setiap anggota keluarga Gray diberi kekuatan juga karena satu anggota keluarga Gray bertugas menjaga satu anggota keluarga Holt. Semua pemimpin keluarga Holt itu taat dan benar-benar bagus kepribadiannya bahkan sejak kecil. Sedangkan kamu saat kecil sangat usil dan susah diatur. Itulah kenapa kamu dijuluki The Peculiar Child. Semua pemimpin mempunyai julukan. Tidak hanya keluarga Holt saja. Semua anggota keluarga lain juga punya. Julukanku adalah The Obdient Living. Ingatanku masih ada meski kekuatanku berkurang. Selama ini aku menyembunyikan informasi bahwa kita peri sembari diam-diam mencari portal untuk menemukan inti Syfes. Jika inti Syfes dihancurkan, ingatan dan kekuatan peri-peri akan kembali.”

“Ayo!” Aku pun seketika berdiri.

“Ayo ke mana?” tanya Lisa kaget.

“Mencari inti Syfes!” Dengan percaya diri aku menatap jauh ke luar gua.

“Tunggu dulu. Ada The Nightmare di luar sana.” Lisa meraih tanganku.

“Jadi The Nightmare masih hidup?”  tanyaku.

“Saat kota Zuleq hancur dia kabur memakai portal yang dia buat sendiri.”

Pantas saja aku melihat The Nightmare membuat Syfes untuk mengubah dirku menjadi manusia. Padahal ia baru saja dikalahkan oleh Ayah dan Ibu.

“Katamu hanya pemimpin keluarga Holt yang bisa mengalahkan The Nightmare. Aku pemimpin keluarga Holt kan?” Tantangku cukup percaya diri.

“H-hah? Memang kamu akan menjadi yang terkuat dari semua peri, tapi tetap saja, tetap saja kamu masih tiga belas tahun. Kamu juga belum tahu cara memakai Python”

“Python? Apa itu? Oh! Apa seragam itu?” tanyaku penasaran.

“Iya. Pertama kamu harus belajar Fylch Python. Fylch adalah mantra untuk memanggil kekuatan. Sedangkan Python adalah nama seragamnya. Nama pistolnya adalah Zython dan nama perisainya adalah Eyethon. Perisai yang lebih kuat adalah Silk. Aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan Fylch Silk, karena aku tidak pernah memakainya. Hanya peri keluarga Holt yang bisa memakai Silk. Kalau Fylch Python mudah. Tinggal katakan nama lengkapmu dengan keras dan jelas. Aku akan menunjukannya padamu.”

Lisa menjauh sedikit dari tempatku berdiri. Ia lalu teriak “Late Gray!” dan helm, baju, dan sepatu muncul entah dari mana.

“Ini yang namanya Python.” Lisa menunjukkan seragam yang ia pakai.

“Kalau Fylch Zython memakai nama depan sedangkan Fylch Eyethon memakai nama belakang.” Seketika pistol dan perisai muncul melengkapi seragamnya. Aku pun mencobanya dan langsung berhasil. Tidak sulit. Mungkin karena aku berada di alam peri bukan di alam manusia lagi.

Setelah berlatih selama 3 malam, kita pun bersiap-siap. Lisa menyiapkan makanan dan minuman untuk di jalan. Semua barang sudah siap. Yang perlu sekarang adalah keberanian. Aku melihat sedikit keraguan di mata Lisa. Ia mungkin ketakutan karena aku masih terlalu muda dan belum menguasai banyak kekuatan.

“Lis. Tenanglah. Aku adalah pemimpin keluarga Holt, The Peculiar Child! Dan kamu adalah pemimpin keluarga Gray, The Obdient Living! Kita pasti bisa mengalahkan The Nightmare!” Aku mencoba memantik api di dalam jiwa Lisa.

Lisa cukup terkejut. Dia berdiam diri sebentar, lalu tiba-tiba berdiri dengan penuh semangat dan keberanian, “Ayo!” kata Lisa.

Saat baru mengambil satu langkah keluar dari gua, tiba-tiba hujan deras. Lisa siap untuk melangkah keluar tetapi aku menghentikannya karena ada petir. Hari sudah mulai gelap. Kita harus bergegas. Aku pun mencoba Fylch Silk. Aku mencoba menyilangkan kedua tanganku seperti yang aku lihat saat ibuku melakukannya. Tiba-tiba Silk muncul dan menutupi kami berdua dengan cahaya kuning. Tentu Lisa terkejut sebab tidak ada yang mengajariku.

Setelah setengah hari kita terbang menggunakan Silk, akhirnya kita sampai di tempat terakhir kita bertemu The Nightmare. Kita berdua memasuki area Zach, tempat yang sama sekali tak ada pohon di tengah hutan. Tiba-tiba ada rubah raksasa muncul di depan kami. Seketika itu kita reflek lompat menjauh. Kacamata di helm kita menutup. Lisa langsung melakukan Fylch Tyth untuk menghilangkan barang yang kita bawa supaya tidak merepotkan.

“Haha… Kalian lincah juga. Sepertinya kamu sudah mengajari The Peculiar Child cara bertarung” Suara Rubah itu hampir mirip seperti The Nightmare.

Aku dan Lisa berlari memutari Rubah itu. Aku berhenti di depan dan Lisa berhenti di belakang tubuh raksasa Rubah itu. Aku melakukan Fylch Silk dan Lisa melakukan Fylch Eyethon bersamaan. Jika digabung, bisa membuat perisai, tetapi dari luar. Berarti yang terlindungi bukan Rubah itu tetapi hanya kita.

Rubah itu pun menggeram keras ke atas, sampai burung-burung yang di pohon beterbangan ke langit. Dan saat itu juga aura gelap datang dari tanah. Makin lama, Rubah itu semakin besar. Ia berhenti menggeram ketika aura gelap itu mengelilinginya. Ia menyiapkan pukulan di udara dan diarahkan ke Silk kami. Silk kami tak kuasa menahan kemudian pecah.

Dia menyerang aku dan Lisa bertubi-tubi. Beberapa kali kita menghindar. Kita hadang dengan perisai meski tetap saja kena pukulan dan cakarannya. Beberapa kali tendangan kita mengenai kaki dan dua ekor besarnya. Tiga jam kami bertarung. Lisa kecapekan, begitu juga aku. Tetapi Rubah itu kelihatannya hanya kena serangan nyamuk.

Lisa akhirnya terjatuh di tanah. Dia pingsan kecapekan. Rubah itu pun mengambil kesempatan untuk menyerang Lisa. Saat cakarannya hampir mengenai Lisa, aku berlari menuju Lisa dan menghadang cakarannya memakai pedang yang tiba-tiba muncul di tanganku. Aku mendorong pedang ke arah Rubah itu hingga ia ambruk. Seketika dia bangkit lagi. Aku menusuk tangan kirinya. Rubah itu pun mengaum kesakitan. Setelah melawan Rubah itu dengan pedangku berkali-kali. Lama-kelaamaan dia mengecil ke bentuk semula. Aku pun mendekati Lisa untuk membantunya berdiri. Saat aku lengah, Rubah itu menyerangku dengan cakarannya. Aku terpental sangat jauh. Darah berlumuran dari tubuhku. Lisa berlari ke arahku tetapi ia dihalangi. Aku hampir pingsan. Di kejauhan Rubah itu memojokkan Lisa. Lisa tidak bisa ke mana-mana. Jika Lisa terkena cakarnya, dia akan mati.

Aku berusaha berdiri tidak peduli seberapa banyak darah yang keluar dari tubuhku. Aku pun meraih pedang tadi. Dengan sisa tenagaku, aku berlari kencang ke arah Lisa dan tiba-tiba sayap muncul di belakangku. Aku terbang ke atas kepala Rubah itu. Aku mengangkat pedang ke atas dan menebas lehernya seketika. Tubuh Rubah roboh ke belakang. Darah menetes dari seluruh tubuhnya. Aku pun jatuh ke kanan.

“Sasha!” Di kejauhan Lisa teriak memanggil namaku.

Gelap. Hening.

Tiba-tiba cahaya membias di sela-sela mataku. Samar-samar aku bisa melihat wajah Lisa. Lisa sedang melilitkan kain ke tubuhku.

“Istirahatlah. Kamu kehilangan banyak darah.” Lisa langsung mengambil air minum.

“Minumlah. Lalu tidur lagi,” lanjutnya sembari menempelkan segelas bambu berisi air ke bibirku.

“Di mana rubah tadi?” kataku dengan suara lemah.

Lisa hanya menoleh ke arah pohon yang daun-daunnya sudah ranggas di dekat sungai. Rubah itu diikat ke pohon.

“Kalian pikr ini sudah berakhir!” teriak Rubah itu di kejauhan.

Aku sudah sadar. Lisa mengobatiku sangat cepat. Mungkin karena memang sudah tugasnya merawat anggota keluarga Holt sepertiku. Ia sudah terlatih.

“Lis. Aku ingin memusnahkan Rubah itu.” Aku langsung berdiri dan mengangkat tangan kananku ke arah Rubah itu.

“Kau yakin?” tanya Lisa memastikan.

“Ya. Aku sudah baikan.”

Lisa mengangguk tanda mengerti. Ia mengangkat tangan kirinya ke arah Rubah itu juga. Aku melakukan Fylch Holt dan Lisa melakukan Fylch Gray. Dan seketika cahaya kuning lurus keluar dari tangan kananku sementara cahaya kecil-kecil kuning keluar dari tangan kiri Lisa. Cahaya kita berdua menggabung dan mengenai tubuh Rubah itu. Rubah yang besar itu pun berubah menjadi kecil. Dan aura gelap yang mengelilingi Rubah itu pun keluar.

Aura gelap itu bersuara, “Kamu sudah tumbuh kuat. Kita akan bertemu lagi.” Aura gelap itu pun melayang di depanku lalu melesat ke langit.

Rubah itu tiba-tiba berkata dengan suara yang berbeda, “T-terima kasih. Kalian sudah membebaskanku.”

“Kamu sebenarnya siapa?” Lisa mendekati rubah yang sudah menjadi kecil itu.

“Aku dulunya peri, tetapi The Nightmare mengambil jiwaku dan menaruhnya dalam seekor rubah. Rubah ini menjadi tubuhku. Sejak saat itu, The Nightmare membuatku melayaninya dan bertarung untuknya. Tadi ia menaruh sebagian jiwanya ke dalam tubuhku. Dia mengontrol tubuhku. Setelah kalian kalah, The Nightmare akan membunuhku dan meninggalkanku.”

 “Jadilah teman kami. Sekarang namamu adalah Faxe.” Aku menjabat tangan Rubah kecil itu.

”Apa?” teriak Lisa. “Kita sudah susah-susah kalahkan dia sampai kamu hampir mati dan sekarang kamu mau dia jadi teman kita?”

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Lisa tahu bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan.

“Sash. Sayap yang tadi itu kamu dapat karena kamu melindungi temanmu. Setiap pemimpin juga mendapatkan sesuatu yang peri lain tidak bisa dapatkan.”

 

Bersambung.

*Cerita ini merupakan tulisan siswa Cirro Cumulus School of Life Lebah Putih Salatiga dalam proyek menulis buku bertema petualangan pada tahun ajaran 2021-2022. Seluruh ide cerita dan gambar merupakan karya orisinil penulis. Pendampingan penulisan dan editing berkerjasama dengan komunitas lintasastra.

Haifa Amina

Haifa Amina

Namaku Haifa Amina. Aku lahir pada tanggal 19 Juni 2010 di Makassar. Sekarang aku tinggal di Pabelan, Desa Popongan. Hobiku menggambar dan aku mau menggambar terus untuk meningkatkan kemampuan menggambarku.

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!