Cerita di Balik Tembok

Art: Da Gr

Matahari sedikit meredup saat aku sampai di sebuah jalanan yang sepi dan berkelok. Pepohonan hijau dan asri memenuhi kanan dan kiri jalan. Aspal yang tidak begitu lebar tetapi masih hitam dan mulus menunjukkan jalan ini tidak sering dilewati kendaraan besar, kecuali pejalan kaki dan pengendara sepeda seperti aku. Sejenak aku memejamkan mata, menikmati kesegaran udara yang tak pernah ada di perkotaan. Sangat menyegarkan. Kesegarannya merasuki tubuhku seketika, membuat aku semakin bersemangat mengayuh pedal.

Aku melihat Dio yang ada di depanku melambat dan menoleh ke sebelah kanan jalan. Aku pun ikut menoleh. Rupanya aku sudah sampai di daerah peternakan lebah yang sekilas tadi aku lihat di peta sebelum rombongan sepeda berangkat. Itu tandanya aku sudah menempuh seperempat perjalanan. Aku tertawa girang dan tidak sengaja memekik bahagia. Dio tampak bereaksi dengan sedikit menoleh. Entah karena kaget atau karena memang ingin melihat sesuatu, yang pasti wajahnya selalu dingin. Sedingin udara pagi ini.

 Menempuh perjalanan sejauh 20 Km adalah sebuah keberanian sekaligus kecerobohan bagiku yang baru sebulan bergabung dengan komunitas sepeda. Terakhir, satu minggu yang lalu, aku gagal menuntaskan rute sepanjang 15 Km karena kaki kiriku kram di tengah perjalanan. Beberapa hari setelahnya badanku bahkan terasa remuk dan susah bangun karena capek. Hari ini, berbekal sebuah pemikiran yang dangkal aku memutuskan ikut ke Kebun Teh Wonosari. Ehm…benar-benar Adista.

Nyatanya semangat untuk sehat dan sembuh sudah membuncah dalam diriku dan mempengaruhi banyak keputusan yang aku buat selama ini. Misalnya, saat tahu ada masalah dengan paru-paru, aku memutuskan untuk keluar dari tempat kerjaku sebelumnya. Bekerja di bank dengan jam kerja yang ketat rasanya tidak berimbang dengan fisikku yang lemah. Aku juga kesulitan mencari waktu untuk berolahraga. Pada akhirnya aku bekerja di sebuah yayasan sosial yang visioner sebagai freelancer. Sebuah keputusan besar yang ditentang banyak orang.

“Kamu kok aneh Adista? Orang berlomba-lomba untuk diterima kerja di sini kamu malah memilih keluar”, kata atasanku, Pak Seno, kala itu. Atau,

“Pikirkan baik-baik, Dis, bagaimana kamu nanti akan hidup dengan gaji sekecil itu?,” nasihat teman kerjaku, Rine. Atau,

“Kamu akan sangat menyesal kecuali kamu menjadi pengusaha yang sukses dan kaya raya”, kata sahabatku, Grace, bernada mengancam. Dengan kala ulang tertentu, kalimat itu sering menggema di kepalaku bahkan sampai saat ini. Lebih-lebih saat terimpit oleh kebutuhan hidup. Seperti saat aku memutuskan bergabung dengan sebuah klub bersepeda yang berarti aku harus membeli sebuah sepeda baru yang tidak murah menurut ukuran kantongku sekarang.

Aku melihat Dio yang masih setia mengayuh pedalnya. Semua orang di komunitas ini adalah orang yang hangat dan menyenangkan, kecuali Dio. Memang tidak adil jika menilai kepribadian orang hanya dari apa yang tampak. Aku tidak berpikir Dio adalah orang yang tidak baik hanya karena ekspresinya yang beku atau sikapnya yang dingin. Mungkin saja aku belum terlalu mengenalnya. Setidaknya, sampai sejauh ini aku masih mengikutinya untuk bisa sampai di kebun teh. Aku tidak pandai membaca peta. Lebih tepat lagi, membaca peta membuatku pusing, bagai melihat sekumpulan rambut rontok yang berserakan.

Aku tidak ingat sejak kapan kami beriringan berdua seperti ini. Entah di mana sekarang Okan, Tiur atau Pak Brew yang tadi bersama kami. Mendadak aku teringat kata-kata Pak Brew sebelum berangkat tadi. Tidak jauh dari peternakan lebah akan ada single track yang berakhir pada sebuah tembok yang cukup tinggi. Sepeda harus diangkat melewati tembok itu agar bisa melanjutkan perjalanan melewati sawah menuju jalan pintas ke kebun teh. Aku menoleh ke belakang. Ganti melongok jauh ke depan. Tak tampak seorang pun yang kukenal. Dengan tubuhku yang mungil ini pasti aku tidak sanggup mengangkat sepeda tanpa bantuan siapa pun, sedangkan Dio? aku ragu dia mau membantuku. Aku mulai memikirkan sesuatu.

“Dio! Ayo istirahat dulu”, teriakku nekat. Tak aku sangka Dio mengerem sepedanya dan menuruti ajakanku. Tentu saja ini bukan murni ajakan untuk beristirahat. Aku berharap mendapat tambahan teman laki-laki yang mungkin masih tertinggal di belakang sehingga ada yang mau mengangkat sepedaku nanti. Kami menepi, duduk di tengah padang ilalang. Aku meluruskan kaki lalu minum. Sepi. Hanya terdengar suara burung-burung emprit sesekali bernyanyi dan tiba-tiba berhamburan saat ada orang melintas.

“Kenapa memilih bersepeda?” tanya Dio tanpa menatapku. Aku menoleh dan menatapnya, memastikan pertanyaan itu untukku. Ternyata memang untukku. Perasaanku berada di antara kaget dan gembira mendengar sapaannya.

“Karena banyak laki-lakinya”, jawabku terdengar menggelitik di telingaku sendiri. Dio spontan terbahak. Ini pertama kali aku mendengar tawanya. Wajahnya yang kaku sudah lenyap tak bersisa. Entah apa yang ada dalam pikirannya, yang pasti aku ingin jujur mengatakan bahwa aku sering dibuat kecewa oleh kaumku sendiri, kaum perempuan. Yah, aku sering dipandang sebelah mata karena pekerjaanku yang jauh dari kata ‘sukses’’ menurut kebanyakan orang, justru oleh para perempuan. Bukannya tidak ada laki-laki yang meremehkanku, hanya saja terasa lebih menyakitkan jika mendengar kalimat ‘oh, mungkin frekuensi kita berbeda ya’ justru dari kaum yang kepadanya aku berharap banyak mendapat dukungan.

“Kamu takut ya dengan perempuan?” tanya Dio. Kali ini sambil menatapku.

Aku mencoba mencerna pertanyaannya dalam diam. Takut? Mengapa Dio memilih kata ‘takut’? Apakah perempuan masa kini menyeramkan baginya? Sepertinya Dio terlalu sering membaca berita kriminal tentang istri membunuh suaminya atau ibu membunuh anak kandungnya. Sehingga gambaran seorang perempuan yang lazimnya anggun dan penyayang hilang di mata Dio, ganti sosok kejam tak berperasaan yang dulu hanya diperankan laki-laki.

 “Bukan takut. Mungkin kecewa, karena terlalu berharap banyak pada perempuan”, uraiku dengan maksud menjelaskan. Tapi entah itu membuat Dio semakin mengerti atau malah sebaliknya, karena Dio sama sekali tidak tahu apa yang menjadi pergumulanku saat ini.

Kami terdiam. Dan…sepi, lagi. Tiba-tiba Dio berdiri dan berjalan menuju sepedanya lalu mengembalikan botol minum pada holder nya. Dia meregangkan kedua tangannya ke udara dan kakinya menendang-nendang angin untuk pelemasan. Aku segera tanggap. Waktu istirahat telah habis dan Dio ingin mengakhirinya tanpa kata-kata. Aku pun berdiri dan mengikuti apa yang dilakukan Dio. Sebelum berangkat aku terpikir untuk menanyakan sesuatu padanya,

Ehm… tembok itu, apakah terlalu tinggi untukku?”.

“Tembok Kesuksesan? Kamu harus melihatnya sendiri untuk bisa menjawabnya”, jelas Dio sambil menaiki sepedanya. Wajah bekunya mulai muncul.

“Selama ini?”, tanyaku mendesak.

“Sesuai namanya, semua orang sukses melewatinya”.

“Termasuk perempuan?”, teriakku karena Dio sudah mulai jauh.

Dio hanya mengacungkan jempol tangan kirinya sambil terus melaju. Secepat itu wajahnya membeku lagi. Dengan badan tegap, penampilan rapi, kacamata berbingkai hitam, rambut lurus dan licin, sebenarnya wajah bekunya tidak terlalu buruk, tetapi tetap saja, tawanya tadi jauh lebih indah dan menyenangkan.

Jalan semakin menanjak. Pepohonan hijau dan perdu, yang sejak tadi melindungiku dari  sengatan surya, mulai hilang ganti semak-semak liar. Keringatku mulai berjatuhan. Lututku juga mulai bergetar. Hanya semangatku yang masih utuh, belum berkurang sejak awal perjalanan. Sebentar lagi aku akan tiba di tembok tinggi yang disebut Dio “Tembok Kesuksesan”. Terdengar masuk akal jika katanya tidak pernah ada yang gagal saat melewati tembok itu. Setiap anggota klub tentu akan saling membantu mengangkat sepeda dan memanjat tembok. Aku pun akan sukses melewatinya jika seperti itu keadaannya. Celakanya aku merasa tidak cukup akrab untuk meminta pertolongan Dio kecuali jika air mukanya sedikit lebih cair daripada saat terakhir aku melihatnya. Ehm… rasanya aku harus memikirkan lelucon segar yang bisa membuat Dio tertawa seperti tadi.

Seolah sadar sedang aku perhatikan gerak-geriknya, Dio tiba-tiba berdiri di atas pedal sambil membuang tatapan lurus ke depan. Persis dengan kelakuan sang juara lomba balap sepeda saat menyambut garis finish. Sebuah tembok batako yang cukup panjang membentang di depan sana. Ketinggiannya terlihat bermacam-macam karena memang kontur tanah di daerah semak-semak itu tidak sama. Tampaknya tembok itu berdiri sebagai pemisah desa satu dengan yang lain. Konon jalur ini sudah tidak asing lagi bagi komunitas bersepeda terutama bagi yang suka mencari sensasi dan tantangan.

Sungguh melegakan saat melihat Pak Brew dan yang lainnya masih belum menyeberang. Mungkin saja mereka menungguku karena yakin aku akan kesulitan melewati tembok itu. Pak Brew menghampiri aku dan Dio yang memarkir sepeda. Wajah Pak Brewok tampak tegang. Dengan bibir bergetar Pak Brew bercerita bahwa Tiur mengalami kecelakaan saat berusaha melewati tembok. Dia jatuh saat berusaha meraih sepedanya yang lebih dulu jatuh. Lututku yang sudah lunglai seketika ngilu melihat Tiur kesakitan, memegangi kaki kirinya. Sepertinya Tiur terlalu percaya diri melewati tembok itu sendirian, tanpa menunggu bala bantuan. Dan sepertinya lagi, dia terpengaruh ujaran ‘semua orang sukses melewatinya’. Dio mendekati aku dan menyodorkan bisikan di telingaku,

Kamu tidak pernah berniat melakukannya sendirian kan?”.

 

**

 

Langit terlalu cerah untuk sebuah sore di musim penghujan. Memang aku tidak mengharap hujan sore ini tapi tidak menyangka jika akan secerah ini bahkan aku masih kebagian matahari sore saat keluar dari kantor. Aku sangat menikmatinya. Masih dengan tas ransel di punggung dan map jinjing berisi kertas-kertas gambar, aku berjalan menuju halte bis. Masih banyak yang harus diperbaiki dari gambar-gambarku.

Sambil berjalan aku memikirkan buku apa yang harus kutemukan di toko buku nanti. Menjadi animator di yayasan sosial untuk kesejahteraan anak memang harus kreatif dan berjiwa besar. Melakukan survei ke desa-desa, ikut kegiatan observasi di daerah kumuh, menggambar hingga larut malam, hanya beberapa saja yang mendapat imbalan rupiah, sisanya dibayar dengan tawa dan pelukan anak-anak yang berterima kasih kepadaku. Aku sendiri tidak percaya hal itu membuat aku justru merasa lebih ‘kaya’ dari sebelumnya.

Masih tersisa satu ruas tempat yang bisa aku duduki di kursi halte. Aku duduk di tengah beberapa orang yang sudah lebih dulu duduk. Terasa hangat seperti di tengah bara. Tercium aroma keringat mereka yang terbawa angin, aroma keringat yang sarat perjuangan. Meskipun aku tak mengenal mereka tapi aku tahu mereka adalah para pejuang hidup, tersirat jelas sekali dari kegelisahan mereka menunggu bis yang tak kunjung datang. Seolah takut kehabisan waktu untuk berjuang. Berjuang untuk mengerjakan apa yang di depan mata dan menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Aku pun masih ingin terus berjuang. Semoga masih banyak waktu untuk berjuang sembuh dari sakit, untuk menyelesaikan gambar-gambar, untuk membagikan buku ke anak-anak di Kabupaten Konawe, untuk ikut Volunteer Trip ke Pulau Taliabu, untuk hal-hal yang sudah aku tulis di buku mimpiku.  

Tiba-tiba aku teringat Tiur. Aku melihatnya tak berdaya saat menjenguknya di rumah sakit kemarin. Matanya sembab karena sering menangis. Banyak mimpi yang tertunda untuk diraih karena kecelakaan itu. Sebelum pulang, aku sempat mengucapkan terima kasih padanya meskipun dia tidak mendengar karena tidur. Dia telah memberikan pelajaran hidup yang sangat berarti. Musibah Tiur dan “Tembok Kesuksesan” mengingatkanku tentang keterbatasan. Aku tetaplah Adista, perempuan kecil, mungil, sakit-sakitan, yang punya mimpi, bukan untuk menjadi pahlawan super, tetapi ‘hanya’ menjadi orang yang bermanfaat.

Kurang lima menit menuju pukul lima. Aku ada janji pergi ke toko buku sore ini. Dulu  aku sering membuat janji bertemu dengan teman-teman perempuanku di halte ini. Tapi sekarang sudah tidak pernah lagi karena sepertinya mereka menjauh. Mungkin karena ada perbedaan dalam memaknai kata ‘sukses’. Gambaran perempuan sukses di mataku tetaplah perempuan yang berhasil membangun kenyataan dalam mimpinya sendiri, bukan mimpi orang lain. Bisa jadi teman-temanku selama ini menawarkan mimpi mereka untukku, tapi tetap saja kesuksesan bukanlah sebuah tren yang harus diikuti semua orang.

Nah, itu dia. Temanku sudah datang. Masih tetap dengan badan tegap, penampilan rapi, kacamata berbingkai hitam, rambut lurus dan licin.

Tentang Penulis

Magdalena O. Seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua orang anak. Suka menyanyi dan menulis; menulis artikel, puisi, cerita, naskah drama, naskah pementasan dan lainnya. Saat SMA pernah aktif di teater dan sempat berhenti menekuni dunia tulis-menulis / karya sastra. Sekitar tahun 2017 secara perlahan mencoba kembali menulis hingga saat ini. Sedikit banyak yang dituangkan dalam cerita pendek CERITA DI BALIK TEMBOK adalah ungkapan pribadi tentang perempuan masa kini. Termasuk pengalaman pahit saat diremehkan oleh sesama perempuan karena statusnya sebagai ibu rumah tangga.

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!