Cerpen – Nama Saya Rani, Bukan Ran

Nama Saya Rani, Bukan Ran

KAMU tahu, nama saya Rani. Sekarang jam tangan saya menunjuk angka 3.40. Dua puluh menit dari sekarang kamu akan sampai, dan saya akan menunggu.

Sekali lagi, nama saya Rani. Hanya Rani. Dalam urutan absen kelas, saya berada di urutan 25. Kamu di urutan 26. Itu kebetulan saja, kataku pada suatu hari. Itu bukan kebetulan, katamu di hari yang lain. Ketika kita dipertemukan dengan seseorang, pertemuan itu bukanlah kebetulan. Ada alasan di balik semua itu, itulah yang perlu kamu cari tahu.

Sekali lagi, nama saya Rani. Namun kamu suka memanggil saya Ran, maka saya menyebut diri saya Ran. Lalu saya menggunakan nama itu untuk setiap akun media sosial saya hingga saat ini.

"Kamu tidak perlu berubah di hadapan saya, jadilah diri sendiri" katamu suatu hari. Itulah alasan mengapa kamu begitu berarti di hidup saya. Ketika semua orang menginginkan saya berubah, ketika semua orang mencerca penampilan dan keadaan saya, kamu memandang saya berbeda. Kamu menerima keadaan saya dan tidak memaksa saya untuk berubah.

Sejak hari itu, saya tidak pernah berubah. Saya adalah Ran, bukan Rani.

Sekarang jam berapa? Jarum jam menunjuk angka 3.45. Lima belas menit lagi kamu akan sampai, dan saya masih menunggu. Sambil menunggu, saya akan memberitahumu beberapa hal.

Dalam kehidupan saya, menjadi perempuan tomboi adalah sebuah kesalahan. Melanggar kodrat. Saya adalah perempuan tomboi, maka saya membuat kesalahan dan melanggar kodrat. Sesederhana itu.

Banyak orang memandang saya dengan sebelah mata ketika saya memakai pakaian bergaya maskulin. Saya tidak suka hal ribet. Saya suka hal yang praktis, maka saya tetap mengenakan pakaian seperti itu meskipun saya terkadang resah dengan pandangan orang-orang.

Nama saya Ran, dan saya adalah perempuan tomboi. Saya yatim piatu sejak SD, maka saya harus hidup mandiri.

Sejak ayah dan ibu saya meninggal dalam sebuah kecelakaan, saya diasuh oleh Bibi dari pihak Ayah. Bibi tidak mempunyai anak karena mandul, sehingga saya diangkat anak olehnya.

Awalnya, kehidupan saya berjalan normal. Bibi merawat saya dengan baik. Saya makan dan tidur dengan baik. Saya sekolah dengan baik. Sampai suami Bibi kembali dari luar kota, kehidupan saya sejak saat itu berubah.

Kamu tahu, namanya adalah Paulus Benyamin. Nama salah satu tokoh dalam Alkitab yang saya pelajari di Sekolah Minggu. Paulus dari Tarsus, awalnya bernama Saulus dari Tarsus. Dia adalah seorang farisi. Seorang penganiaya. Sesudah berjumpa dengan Yesus di jalan menuju kota Damaskus, dia berubah menjadi pengikut Yesus.

"Sekarang, namamu adalah Rani Benyamin" kata Bibi suatu hari.

"Kenapa? Apa seseorang bisa mengubah namanya sesuka hati?" Saya protes.

"Tidak" jawab Paman Paulus.

"Karena sekarang kamu adalah anak kami, maka namamu adalah Rani Benyamin."

Nama saya Ran. Bukan Rani Benyamin atau apalah itu. Mengapa? Tanyamu suatu hari ketika saya ceritakan masa lalu itu padamu. Karena kamu mencintai saya sebagai sahabat dan saya percaya padamu, maka saya mengatakan masa lalu buruk itu padamu.

Paulus Benyamin adalah Saulus dari Tarsus. Dia adalah orang jahat. Seorang farisi. Seorang penganiaya. Dia jahat pada saya ketika saya beranjak SMP. Saya tahu dia jahat pada saya setelah Ibu guru memberitahu saya bahwa tindakan menyentuh hendak merasai sesuatu di bagian tertentu adalah pelecehan seksual. Dia melecehkan saya, maka saya menghindarinya di rumah.

Saya ingin memberitahu Bibi tentang kejadian itu karena Ibu guru menyuruh kami tidak tinggal diam jika menjadi korban seperti itu, tapi saya takut. Saya belum percaya pada Bibi, karena Bibi mencintai Paulus Benyamin. Ketika seseorang mencintai, dia percaya pada sesuatu yang belum tentu benar. Meskipun yang saya katakan benar, belum tentu Bibi percaya.

Ibu guru mencintai kami. Dia mengatakannya suatu hari, maka saya percaya padanya.

"Nama kamu Rani, bukan Rani Benyamin lagi" kata Bibi suatu hari dengan wajah sembap.

"Kenapa? Bukankah tidak boleh berganti nama sesuka hati?"

"Itu tidak benar" jawab Bibi. "Kamu bisa mengubah namamu sesuka hati untuk alasan tertentu." Saya mengangguk setelah Bibi melepas pelukannya. Melepas saya ke luar kota.

Saya tahu Bibi sudah tahu tentang kejadian itu karena Ibu guru memberitahunya. Saya tahu Bibi kesulitan saat itu, maka saya memeluknya sekali lagi dan berterima kasih padanya atas semua kasih sayangnya pada saya. Saya meninggalkan Bibi dan kota itu, tetapi saya tidak hilang kontak dengannya. Bibi tetap membiayai saya meskipun saya tinggal dengan nenek di kota ini.

Nama saya Ran. Sekarang jam berapa? Jam 3.55. Lima menit tersisa.

Mari berdiri dan saya akan beritahu satu hal lagi padamu.

Saya Ran. Saya perempuan tomboi. Saya suka mengenakan pakaian bergaya maskulin dan serba tertutup karena dengan cara itu laki-laki berwajah mesum tidak akan tergoda. Saya tidak akan dilecehkan lagi.

Sekali lagi, nama saya Ran. Dan namamu adalah Ria.

Ria yang kukenal adalah perempuan ceria dan apa adanya. Dia sopan dalam berpakaian dan selalu menatap mata saya ketika berbicara. Dia juga sangat jujur untuk hal-hal kecil yang di kemudian hari saya sadari menjadi kunci keberhasilan persahabatan kami.

"Kamu tidak pernah berubah, Rani."

Rani? Mengapa bukan Ran? Dan mengapa kamu berubah secepat ini, Ria? Kamu mengenakan pakaian terbuka. Kamu menatap ke arah lain ketika berbicara dengan saya.

"Kamu terlihat baik-baik saja. Mengapa kamu sama sekali tidak berubah?"

Apakah segala sesuatu perlu perubahan? Apakah segala sesuatu harus berubah setiap saat? Dulu kamu menyuruh saya untuk tidak berubah.

"Kenapa diam saja?" tanyamu, lalu mengalihkan tatapan lagi. Memanggil seseorang.

Seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berkaca mata tebal mendekat. Berdiri di sebelahmu. "Ini Firman, kamu memperkenalkan laki-laki itu. Adik iparku. Maaf tidak mengirim undangan untukmu di hari pernikahanku. Aku menghubungimu lewat email. Apakah kamu tidak membacanya, Rani?"

Kamu telah berubah, dan saya tidak pernah berubah. Saya tidak percaya padamu lagi karena kamu ternyata tidak mencintai saya. Kamu juga menginginkan saya berubah, maka saya akan berubah.

Bibi bilang boleh saja berganti nama sesuka hati untuk alasan tertentu. Maka nama saya Rani, bukan Ran.

Yustina Ika Masakke

Penulis sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tana Toraja. Menyukaipetualangan, buku, warna biru dan musik relaksasi. Ingin berkenalan lebih jauh,bisa dihubungi di yustinaikalm13@gmail.com atau di Instagram @yustina_ika13

Mau Tulisanmu Kami Muat?

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

Menjadi Perempuan

Sesekali Asri menyeka keningnya yang mengkilat. Tangan kirinya sibuk mengusap kaki dengan minyak kayu putih.

The Deaf Memoria

APAKAH kau tahu ada sesuatu yang salah dalam ingatanmu? Sesuatu yang tidak berjalan benar. Sesuatu yang melenceng dari jalur.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *