The Van Girls

Art: bekimart

Memaafkan, melupakan, melanjutkan — seberapa banyak dari kita yang benar-benar mampu melakukannya?

Come on … Chin up, girl. It’s been years! Gue nggak setuju banget Lo penyok begini tiap hari sedangkan orang yang udah nyakitin elo bebas di luar sana.”

“Penyok? Emang gue rongsokan?”

“Itu bahasa gue buat orang-orang yang hidup kek zombi, just like you ini loh.”

Sial. Ada-ada saja. Tapi boleh juga. Aku mencatat kata “penyok” di notes kecil yang selalu kuselip di dalam saku celana jeans-ku. Sebuah kebiasaan yang selalu diejek kuno oleh sahabatku Nadia — si penyebut kata “penyok” barusan. Tapi okelah, selama kebiasaan kuno ini melahirkan tulisan-tulisan yang layak dijual — That’s fine. Because no writing, no money, no escaping, everybody!

Coffee?”

Aku menolak. Nadia menyelonong ke dalam Van setelah menenggak segelas kopi bak minum air putih. Tak butuh waktu lama baginya untuk menerobos ke alam mimpi bahkan setelah segelas kopi itu. What’s wrong with coffee these days? Apakah kafeinnya mulai berevolusi jadi obat tidur paling menyenyakkan?

“Udah jam sepuluh nih, Jo. Jangan sampe kemaleman, ya.” Imbuh Nadia, menyempatkan diri untuk menepuk bahuku sebelum beranjak masuk.

Yeah, don’t worry about that.” Tambahku yang dihadiahi lambaian kecil darinya.

Berbeda denganku, kopi adalah kenikmatan yang harus kuhindari setelah jam makan malam kalau tak ingin dipaksa bergadang. Hanya sekali dua aku mau menenggaknya, itu pun dengan syarat langit dan suasananya mendukung untuk santai-santai. Bukan di tengah cuaca dingin menusuk begini, lengkap dengan gemuruh kecil yang membuat penampakan malam terasa horor. Meski demikian, entah mengapa kakiku serasa berat untuk digerakkan. Gelapnya malam telah  melebur bersama keindahan panorama danau. Menjadi waktu yang tepat untuk menikmati kesenduan.

Hamparan danaunya paling apik saat menjelang sunset. Lautan air tawar, siluet perbukitan yang ditutupi awan-awan tipis di latar belakangnya. Rerumputan halus juga menambah segar pemandangan. Tak heran jika tempat ini menjadi surganya pelarian singkat paling nyaman. Meski aku ragu dua tahun masih bisa disebut “singkat”. 

Dua tahun loh … That’s how long we’ve been in this island for ‘healing’. Gue sih berharap Lo nggak lupa kalo dalam setahun itu ada 360 harian, kaliin dua jadi berapa tuh? Kalo gue punya anak udah bisa lari kali dia.”

So?” Tanyaku. Ngasal saja sebenarnya.

“Pulang, Jo. Pulang.. gue mau memulai lembaran baru di sana lagi. Ketemu sama keluarga juga. Emang Lo nggak pengen balik kampung buat ketemu ortu Lo?”

Percakapan itu berakhir di sana. Sekitar tiga bulan lalu aku sempat tersenyum mendengar penuturan Nadia yang ceria, seolah lukanya telah sirna. Maksudku, good for her, aku turut senang sebagai seorang teman meski — jujur— cukup sedih karena pengembaraan ini mungkin harus dilanjutkan seorang diri — dan kalau boleh lebih jujur lagi, aku sangat lega saat Nadia mengurungkan niatnya — dan tentu, aku tak ingin banyak tanya. Kenapa ia tak jadi pulang? Aku akan mendengarkannya dengan iklas, just whenever she’s ready to open up.

Di sinilah kami sekarang. Terjebak pelarian dengan embel-embel “Healing”. Melalui hari demi hari melakukan apa yang kami inginkan, berkunjung ke sana ke mari, tertawa dengan orang yang bahkan asing sekali pun, mampir ke berbagai tempat populer sekadar pamer di media sosial. We do whatever we want, but still, that pain is still there, no matter how bad we want to get rid it off of our mind, its still.. there!

Walau sudah menghabiskan waktu selama 2 x 366 hari seperti ucapan Nadia, tapi bukankah perasaan tak melulu bisa dikalkulasi? Buktinya, luka itu menggagalkan rencananya pulang — menjadi kali kedua Nadia berurusan dengan kejujuran, bahwa dia.. dan sesuatu dari masa lalunya belum bisa disebut tuntas. Nadia dan sepotong kekelamannya masih belum berdamai. Sama sepertiku, yang sangat tahu bahwa luka itu masih berpesta di palung terdalam sana, hatiku.  Dan kami sama-sama tahu bahwa sebuah tragedi masa lalu masih terus membuntuti pelarian ini. Nadia dengan milikinya, aku dengan milikku. Kami tak benar-benar tahu peristiwa macam apa yang masing-masing kami lalui, satu yang pasti, bahwa lukanya sama besar, sama dalam, sama-sama pernah menyodorkan opsi mati saking ingin melarikan diri dan menghilang tanpa jejak. Dari sekian banyak memori lampau, beberapa di antaranya sangat sulit diceritakan. Baik aku, atau Nadia, kami memilih bungkam dari pada terlibat adu kengenesan nasib, atau lebih buruknya lagi, kami malah tak bisa memahami musabab dibalik kesialan itu sendiri. Jadi opsi terbaiknya, ya, cuma diam.

Dua tahun menyandang gelar “The Van Girls” mengajarkanku satu hal, bahwa ketidaktuntasan masa lalu akan menjelma racun yang turut menginfeksi hari ini, momen ini, detik ini — dengan luka yang sama seperti yang sudah-sudah.

Pukulan itu.

Jeritan itu.

Kebohongan itu.

Aku merasa seolah sebuah layar tancap dibentangkan luas tepat di pelupuk mata. Adegan demi adegan direka ulang dalam diafragma lambat. Semuanya begitu menyatu hanya untuk menyerang kewarasan, menendang sudut hati yang diam-diam ingin tetap percaya pada harapan, membuat kelu segenap rasa bahagia. Akhirnya, kenangan di pulau ini kalah dominan oleh ingatan akan luka lama yang diseret dari sebuah kota di pengujung nusantara sana.

Sebuah tangan kekar yang gemar menampar.

Lolongan wanita yang mau saja disiksa, kurasa menggema sampai ke pelosok desa.

Kenapa semua orang dewasa selalu punya alasan yang seolah membenarkan apa yang seharusnya salah?

Kenapa mudah sekali berakting layaknya tak pernah terjadi apa-apa setelah menghancurkan segalanya?

Karena bagiku, semuanya tak mudah. Ikut terseret dalam drama kehidupan orang dewasa adalah salah satu kecelakaan hidup yang sangat ingin kuhindari. Lihatlah, lukanya sedalam ini. Cacatnya abadi.

Ke mana pun menyapu arah pandang, yang terlihat hanya potongan-potongan cerita menyakitkan. Hatiku nyut-nyutan. Demi Tuhan aku ingin sekali melupakan semua ketidakberuntungan itu, tapi kenapa sesak sekali sampai menghantui begini? I want to forgive, but I can’t … Apa yang hilang terlalu berharga.

Sebuah mimpi direnggut paksa. Aku bukan hanya kehilangan cita, tapi juga cinta — segala bentuk cinta yang menjadikanmu hidup, aku sudah tak punya. Sudah hilang. Menguap bersama kebohongan orang-orang dewasa, menjelma benci, menyisakan luka batin.

Pemandangan indah yang disuguhkan hamparan danau Tamblingan tak mampu membuatku betah. Kesunyian yang awalnya terasa tenteram—entah bagaimana—memantik kebisingan dari dalam. Secangkir coklat hangat tak jadi nikmat. Luka yang kembali bergentayangan membuatku takut terlelap barang sedetik saja. Ini menyiksa, juga menyesakkan. Aku disergap dari berbagai sisi oleh ketidakmampuan melupakan.

“What’s wrong?”  Kegaduhanku akhirnya membangunkan Nadia yang super kebo.

Everything, Nad! Semuanya serba salah, mungkin awal mula hidup gue juga udah salah!

Namun aku hanya menggeleng seraya menyembunyikan sepasang mata yang mulai mengkristal, alih-alih melampiaskan isi pikiranku. Kursi, cangkir, segala tetek bengek peralatan yang untungnya tak banyak kukeluarkan segera kubereskan.

“Done.” Kata Nadia sebelum menyalakan mesin.

Kami sudah di dalam Van dan siap hengkang dari tempat ini, meninggalkan segala kekelaman masa lalu yang sedang dipentaskan di luar sana. Berkat tangan cekatan Nadia, tak butuh waktu lama agar Van kami bergerak mulus membelah jalanan sepi di jam setengah dua malam. 

Begitulah. Aku, Zoe Anya, melarikan diri lagi. Membawa serta segenap egoistis pribadi, termasuk perasaan yang mengklaim diri sebagai pihak paling ter sakiti.

Keluarga yang berantakan.

Raut wajah ibu yang mulai memudar.

Sekelebat bayangan lelaki yang enggan kusebut ayah juga menyelinap unjuk diri secara tiba-tiba. Haruskah tendangannya di sudut perutku juga turut kusebutkan? Karena tentu, ingatanku belum pudar. Sudah berapa kali? 3, sejauh ini. Akankah ada pukulan yang lain lagi? Jelas tak akan pernah kubiarkan!

Dan yang paling membekas? Ugh, aku menyesal karena pernah mau percaya. Seharusnya aku tahu, manusia pada dasarnya egois. Bohong benar jika mengaku sayang tapi yang disayangi dibiarkan terlantar tanpa harapan atau masa depan padahal telah dijanjikan bahwa dukungan akan selalu menyertaiku. Bisakah aku mengaku tak iklas atas nestapa yang orang lain sebabkan? Selain perceraian, beasiswaku yang pakai sekalipun dengan alasan “untuk makan”  adalah satu hal lain yang mustahil terlupakan. Aku sudah dibabak terakhir pendidikan. Sekalipun tak benar-benar menguasai jurusanku, kehilangannya sama dengan kematian arah langkah. Berhenti di semester sembilan karena masalah biaya, batin yang tertekan karena perasaan seolah-olah berjuang sendirian, akhirnya melempar jiwa dan ragaku ke dasar lembah nan kelam. Membuat frustasi, seolah mati satu-satunya solusi.

Jika ditanya apa yang paling menyakitkan di dunia ini?  Mungkin kesepian, kehilangan, kebingungan, keraguan dan kenestapaan yang tampaknya berhenti memberi kesempatan adalah jawabannya.

Ingatan yang seujung kuku itu, menyakiti sekujur tubuh. Aku lelah, tapi belum sempurna merelakan. Ambivalensi ini.. bukan sesuatu yang pernah diajarkan di sekolah, membuatku bertanya-tanya pada Tuhan, apakah mencintai dan membenci sekaligus adalah bentuk lain dari sebuah azab? Ataukah ia sebenarnya ujian? Karena pelarian sudah sejauh pulau Dewata, namun masih tak kutemui jawabnya.

Apa kata Nadia dulu? Rindu keluarga? For God sake I miss them so much like never before! Tapi pulang bukan sesuatu yang sanggup kulakukan. Beginilah caraku menjalani hidup sekarang. Lari, lari dan terus lari dari bayangan masa lalu yang sejatinya ikut mengekor ke mana pun Van kami beranjak pergi.

***

Dua single women bersama Van-nya melesat santai di jalanan. Keren? Sudah biasa. Terutama ketika Zoe didatangi sesuatu dari masa lalunya. Aku sebagai partner in crime-nya Zoe ke mana pun ia ingin sembunyi, tak sekalipun berberat hati menyopiri temanku ini ke mana pun batinnya ingin menenangkan diri.

Isak tangis Zoe perlahan reda. “I’m sorry, Nadia.” Ucapnya kemudian.

“Buat?” Tanyaku tulus kebingungan.

Zoe menunjuk wajahnya sendiri. “This. Maaf udah ngebangunin dan ngerepotin elo begini.”

“Jo,” begitu aku memanggilnya.

I’m here if you need to talk. You can count on me, girl.” Ucapku meyakinkan.

You okay?

Stupid question after all, mendadak aku menyesal sudah menanyakannya. Tentu saja seorang Zoe Anya akan mengangguk mengiyakan. Jawaban pasti bagi tipikal orang yang tak ingin banyak drama. Aku bisa menelan salivaku, sayangnya tidak dengan pertanyaan bodoh barusan. 

I’m okay.” — see?

“Sebenarnya apa sih yang udah menimpa elo di masa lalu, Jo?”

“Sama kayak Lo, lah. Kita cuma terluka dengan cara yang berbeda.”

Kalau sudah begini, haruskah aku memaksanya buka suara? Sedangkan yang ditanya juga tak ingin banyak mengumbar derita.

“Lo bisa cerita sama gue kapan pun Lo mau, Jo.” Tambahku melenyapkan lengang yang mulai merebak.

“Lo tahu, Jo? Gue sebenarnya pengen tahu kenapa Lo berakhir di sini, cry hard, terus pergi secara tiba-tiba. Selama dua tahun ini gue perhatiin Lo selalu kabur tengah malam. Mungkin bener gue terlalu penasaran sama hidup Lo, tapi gue sebagai teman Lo juga prihatin, Jo. Serius. Would you seek for therapy at least?

Oke. Di sini sepertinya cuma aku yang tahu caranya menggunakan mulut untuk berkomunikasi. Kontras dengan sahabatku Zoe, gadis itu tak banyak bicara. Tapi cukup tahu bagaimana caranya menyumpal mulut orang lain jika ia benci apa yang didengarnya — kemampuan sarkasme seorang Zoe tergolong mumpuni.

And would you seek for therapy at least too?

Aku terkesiap. “Yeah, I mean, I did.

“Gagal, kan?”

Fakta pahit ini harus ditelan. Ya, gagal, Jo. Terus Lo mau apa? Setidaknya gue udah berusaha! Haruskah aku mengomeli manusia dingin ini sampai mulutku berbusa? Serius. Zoe adalah makhluk yang kadang susah diberi petuah.

“Kayak yang Lo liat sekarang, gue berakhir di pulau ini. Gue udah pernah ke psikiater dua kali, Nad. Tapi obat, terapi, atau apa lah itu nggak membantu gue hidup dengan baik. Gue bahkan ke dukun saking frustasinya sama isi kepala gue sendiri, if you only knew that part.

Apakah memainkan emosi adalah keahlian seorang penulis? Karena aku merasa Zoe seolah mampu mengubah kekesalanku menjadi rasa penasaran sekaligus bersalah.

“Terus gimana terapinya?” Lanjutku menginterogasi dengan nada pelan penuh kehati-hatian.

Long story. Gue cerita lain kali, kalo udah siap.”

Kami tidak pernah begitu dalam mengumbar masa lalu masing-masing meski sudah dua tahun menjelma “The Van Girls” can you believe it? Yang kami lakukan setiap hari adalah menjelajah ke berbagai tempat, lalu di pengujung malamnya sering kali meringkuk dibalik selimut dan diam-diam menitikkan air mata. Meski tampak seperti tak punya empati, tapi kami tak keberatan mengacuhkan kesenduan masing-masing. Karena kami tahu, curhat bukan lagi sesuatu yang mampu membuat lega. Telinga manusia cepat bosan, sekali dua kali okelah, selebihnya siapa pun pasti akan jengah — dan itu adalah sebuah fakta.

So.. apa yang ngejar-ngejar Lo sampe ke pulau Dewata? Lo punya dosa apa?”

Kali ini aku sedikit memaksa ingin tahu.

“Nad, please.. oke. Gue cerita nanti kalo gue emang udah siap. My past is still heavy. I need some more time to open up at least to you. Sama yang pro aja gue nggak bisa curhat, apalagi sama Lo yang notabenenya sopir Van gue?”

“Hahah, gitu banget Lo!”

Zoe itu sosok misterius. Ibarat cerita ia adalah genre thriller. Penuh teka teki. Susah ditebak. Tapi selalu mampu membuat penasaran setiap kali masa lalunya diungkap dalam satu kata saja. Semacam bab demi bab yang diakhiri dengan satu dua gambaran singkat yang minta disibak kelanjutannya. Seumpama bom waktu, Zoe adalah sosok paling tak kompatibel untuk jiwa-jiwa yang penasaran, karena ia siap meledakkan keingintahuanmu secara tiba-tiba. Seperti aku, yang malam ini tak tahan ingin mengintip tuntas ke masa lalunya. Tapi.. aku tak punya hak, bukan? Jika diri sendiri saja tak ingin banyak mengulang cerita.

Ck. Beberapa pengalaman kelam harus dibarengi kesiapan yang sama besar bila ingin kembali diceritakan. Aku tak mampu buka suara tentang cerita lamaku, tapi selalu ingin tahu tentang kekelaman orang lain. Aku juga cenderung mudah memahami luka orang lain, namun kurang mampu mengerti diri sendiri. Mungkin itu sebabnya terapiku gagal. Pertanyaan yang harus kujawab selama sesi konseling serasa pisau bedah yang menyayat kulit tanpa anestesi. Jadi aku berhenti. Lalu memutuskan bunuh diri. Tapi gagal. Kemudian berakhir di sini, di pulau Bali.

Suicidal is stupid. If you wanna hear some naked thruths, I’ve been escaping myself more than a hundred times already. Wanna join? Be my driver.” Ajak Zoe di hari pertama kami bertemu. Saat itu aku sudah siap-siap terjun bebas dari atap teratas gedung pencakar langit tertinggi di kota Jakarta.

Percakapanku dengan Zoe hari itu terarsip rapi di sudut memori paling berkesan dalam susunan pusat sarafku. Anggaplah menjadi sopir Van-nya sebagai bentuk terima kasih atas pertolongan Zoe kala itu dan juga pelarian kami sampai detik ini. Bahkan bertemu dengan Zoe pertama kali terasa lebih baik dari pada terjebak dalam konversasi yang habis-habisan menguliti aku selama sesi konseling.

Kenapa gue nyuruh dia ke psikiater kalo diri sendiri aja gagal sembuh? Konyol Lo, Nad!

Heran, ya. Terkadang memberi solusi terlalu gampang dari pada menjalaninya sendiri. Words are easy.

Aku membelokkan Van menuju parkiran sebuah toserba yang buka 24 jam.

 

“Gue butuh air, Lo mau titip sesuatu?”

“Biar gue aja.” Ucapnya kemudian menyelonong ke luar dengan sepasang mata membengkak. Well, satu hal lagi tentang Zoe, ia punya sifat rada cuek yang suka kambuhan. Biasanya setelah nangis bombay ia tak akan peduli dengan pendapat orang pada matanya yang bengkak.

Aku menghempaskan punggungku ke kursi kemudi seraya menerawang sebuah wajah yang mulai pudar digerus waktu. Seandainya aku tak menyimpan fotonya, mungkin aku sudah benar-benar melupakan raut wajah menggemaskan itu.

Ibu macam apa yang bisa melupakan anaknya?

I miss you so much my cutie..” ucapku lirih.

Kupeluk foto bayi enam bulan yang tersemat di dalam dompetku, mencoba meresapi kali terakhir saat aku mendekapnya. Sekarang, aku seumpama debu yang hilang makna ditiup angin tanpa arah. Semoga ia baik-baik saja sampai takdir mau memberi kesempatan untuk kami kembali bertemu suatu hari nanti. Sekalipun aku tak yakin hari itu akan datang.

Here’s your order, maam.

Aku buru-buru menyeka mataku saat Zoe menyodorkan sebuah botol air mineral. Kini tangannya menepuk pundakku dengan halus, membuatku semakin ingin meratap dan meraung seandainya bisa.

Tentang Penulis

Kak Zi. Asal Aceh. Karena hobi menulis, ia banting setir ingin fokus jadi seorang penulis profesional di kemudian hari. Bisa dihubungi melalui : IG : @ztwyn_ atau Email : zhiadoraazizah@gmail.com

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!