Puisi-Puisi Muhammad Ali Zulfikar

Art: lenamacka.com

Surat Keramat

 

Bukankah telah kutulis dalam surat itu:

Jangan menunggu waktu berangkat, ia tidak pernah terlambat.

Namun, kulihat kau bosan selalu datang pukul tujuh pagi

dengan ujung kuku meremas cangkir kopi

berdiri dan menunduk sebab kau takut

melihat bayangan badai mengintai dari segala arah.

 

Kau jawab pula dalam balasan surat itu:

Kalau berperang menangkanlah, kalau terbang mendaratlah.

Oih, seakan aku tentara Amerika yang dikirim ke Vietnam atau Irak,

kau tentu tak sedang mengirim telegram ke pos kematian bukan?

 

Kita sama-sama tahu ada yang tidak tertulis dalam surat-surat itu:

Seperti gelagat pada isyarat.

Sepanjang waktu kita sibuk menyalin mudah-mudahan lebih banyak dari ingin

dan membiarkan angin menerbangkan arak-arakan burung origami ke langit

tempat semoga dan mengapa bertempur dengan sengit.

 

Di sini

Surat-surat tidak pernah sampai ke alamat.

 

Mukomuko, 15 Maret 2022

Mengenang Segelas Luka

 

Di kamar mandi tadi pagi

kutemukan matahari biru menyala

dari mata sayu kau yang tertinggal di cermin,

pendar cahayanya memanjang

lembut memeluk hal-hal asing

yang terdengar bising saat dieja bibirku.

 

Dari bibir kau yang jatuh di bantal

terbit badai dengan seribu satu retakan berhamburan

melumat satu koloni galaksi di kepala

menjadikannya puing-puing

dengan genangan bernama telaga marabahaya.

 

Menjelang siang,

dari diriku, sekujur kata padam

luruh gugur menguning dan rebah

tunduk pada ibadah-ibadah palsu

yang garang nyalang menerjang pintu-pintu

melakoni peran dalam sinetron laga di kepala.

 

Mukomuko, 31 Januari 2022

Elegi

 

Musim berwarna sunyi di sini

Hari-hari menggelegakkan duka 

Waktu hanya membeliakkan ketakutan

Kaki berhenti dari tabiatnya mencari tempat

Tubuh mencintai persembunyian

Dan undang-undang negara telah memberendel pintu rumah.

Tidak ada tamu, tidak ada yang bertamu.

 

Cuaca pecah menjadi kepingan isak

Detik ke detik memuai menjadi tidak asik

Memelarkan jarum panjang pada jam dinding

Kota dan hutan memulihkan diri

Kekeringan melanda kantong celana dan mata orang-orang

Kecuali pejabat dan pengkhianat

Seperti kata pisau: maut memang mencintai rakyat jelata.

 

Di sini musim dan cuaca milik pemerintah

Badai atau kemarau bisa dipesan sesuai kebutuhan

Teroris atau rekan bisnis tergantung keadaan politis

Semua awal mula berangkat saat rakyat melompat dan mendarat

Ke dalam kotak kardus yang perkasa

Hari ini adalah sebuah harga yang harus dibayar

atas tawaran seratus ribu perkepala.

 

Mukomuko, 15 Maret 2022

 

Suatu Hari Di Kepala

 

Setelah petang

sudah jarang ayah menjaring seluruh orang di rumah dengan tangannya

Perahu tidak pernah lagi melepas sauh ke muara di ruang tamu

Berlayar melewati jam-jam istirahat dengan saling meleparkan kata

Televisi dibiarkan asik sendiri

sesekali jendela mencuri dengar tentang kepala yang tertinggal di meja kantor

atau suatu hari yang terlanjur di bawa pergi tanpa permisi

 

Setelah pagi

Di meja makan semakin sedikit waktu ibu untuk mengecup pipi

Dapur berhenti memberikan pertunjukan Colloseum bagi sayur dan daging

Perayaan pernikahan bagi gunung dan laut

Yang kemudian melahirkan sepiring puisi

Membawa aroma masa kecil sesekali pulang ke rumah

Tempat segala yang dikenal lidah diberi nama

 

Setelah sore

Buku diari sudah berhenti menjadi sahabat baik

Potlot sudah menua dan kertas bosan membangun alasan

Tapi tiada putus rantai mengencang dada

Memaksa tidur menyingkap selembar demi selembar kulit ari dari tubuh luka

Menganga mencuatkan ujung senjata pada burung-burung

Meski keluarga habis diburu tidak pernah tampak murung.

 

Mukomuko, 15 Maret 2022

Dalam Mengingat Momen Buruk

 

Merekahlah yang semerah nyala

pada awan badai yang mengambang

di antara kedua bibir kau

menjadi larik-larik maskumambang

dengan dendang lagu hikayat terpahat

di setiap leleh tangis mata kau.

 

Meledaklah kata-kata yang telah utuh

dalam baris sumpah serapah

dengan tanda seru lebih banyak dari umpatan

yang kau lontarkan lebih fasih dari menyebut nama Tuhanmu sendiri.

 

Meredalah hujan tanpa mendung

Sebelum demam hypertropikangen menggigilkan suatu hari kita.

 

Mukomuko, 31 Januari 2022

Pertemuan Dua Orang Asing Di Kafetaria

 

Sejenak menjadi terlalu lama di sini

sejak bulan setengah jadi lahir dari mata kau

bulat tapi pucat, bercahaya tapi sekarat

seperti secangkir calendula yang telah dingin

menyesap tabu dari rasa ingin tahu

atau menyesatkan petunjuk arah pada jalan pulang

ke tanah ibu: tempat semua peluk tak pernah bisa mengelak.

 

Sejenak menjadi terlampau jauh memberi jarak

memisahkan kursi kita sebagai ruang tunggu

dan kue-kue kering di piring mengabu.

Meja menganga lebar

menelan semua yang sudah dipersiapkan saban hari

sesaat setelah surat dari langit mengetuk kamar tidur

membuat malam dan pagi bergerak selambat kata-kata

mengguyur nyala lentera jadi dingin

jadi ingin di suatu peristiwa.

 

Mukomuko, 07 Februari 2022

Tidak Jadi Pulang

 

Subuh melepas jarak Yogyakarta-Semarang

Tidur telah melewati masa kadaluarsa

Tidak ada malam di kereta ini

Lampu seterang keresahan bulan yang lelah

mengejar mata jendela.

 

Pagi di atas perlintasan seperti melihat pintu rumah dibuka

Dan kehangatan ibu menyambut tubuhku:

Tamu dari sebuah negara asing bernama meja kerja.

 

Lampu peron tertidur dan orang-orang menyala

Stasiun terakhir merentangkan tangan

Memeluk gerbong kereta yang menumpangkan kepergian

Atau mengantarkan kepulangan:

Selain mereka berdua hanya aku yang berada diantara keduanya.

 

Siang sejengkal lebih dekat di atas ubun-ubun

Di kantong kepala, catatan masa lampau memberanguskan tujuan:

Aku dan keras kepalaku memilih hanyut ke arah selain rumah.

 

Mukomuko, 22 Februari 2022

Menyingkap Halaman Tersembunyi

 

Seluruh hidup menyusut dalam saku

melipat diri sembari menyembunyikan kegaiban

dalam hal-hal lumrah yang disalahartikan

dengan terka teka-teki kata sifat

yang menyifati laku celaka dengan karma

di kamar tidur

tempat semua hidup dibuat dalam mimpi.

 

Semua hidup dalam mimpi meringsut keluar

menjelma diri lain seraya mengelupaskan masa lalu

dari cangkang yang mengekang segala

pembatas menyelisik halaman buku

menghadirkan catatan harian di ruang baca

tempat semua hidup direkap secara sia-sia.

 

Reinkarnasi

 

Aku memetik detik pada sekuntum waktu

Dari tangkainya yang getas melengkung cakrawala ganjil

Sesuatu muncul dari sana:

Gegana-gegana merah muda mengapung

Mengepung seluruh haru, menyarukannya dalam pelangi

Dan mukjizat melompat-lompat dari kantong langit

Berjinjit-jinjit memungut setiap pecahan peluru masa lalu

Mengumpulkannya dalam satu keranjang peristiwa

Membuat hari lekas kembali ke bermula.

 

Semula masa beranjak dari dua titik nol

Aku mengutip sebaris puisi dari lidah angkasa

Sehabis kata-katanya mengelana

Malanglang jagat maya menemukan rima

Sesuatu membenih di sana:

Zat-zat mencelat jadi segumpal darah

Darah marah menjadi tulang

Tulang kalah dibalut daging

Daging nyala diberi nyawa

Menjadikan semua lekas kembali ke semula.

 

Mukomuko, 12 Maret 2022

Malam Indah

 

Malam menggenang di kaki langit kota sepi: Argamakmur

Semua rencana pulang sebagai catatan panjang di buku harian

Tak habis lembar-lembar mengisahkan sehelai senyum yang menggelitik

Menjadi hamba yang mengecualikan hal-hal tabu untuk sesaat

Sebelum dadu di dada kembali di lembar ke udara

Menghamburkan adrenalin untuk setiap pesan masuk

Menghabiskan percakapan usang yang menyenangkan

Dan kita kini adalah sepasang permintaan

Tangan-tangan dari setiap kehendak kita

Menyaru jadi rindu

Pada suatu hari di entah kapan

Malam ini akan kembali dengan alasan-alasan

Yang mempertanyakan keabadiannya.

 

Mukomuko, 09 Maret 2022

Muhammad Ali Zulfikar

Muhammad Ali Zulfikar

Penulis lahir tahun 1994. Bercita-cita memanusiakan manusia. Berdomisili di Desa Marga Mukti Kecamatan Penarik Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu. Email: alamatposudaramazli@gmail.com Akun instagram @katahkata

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!