Puisi-Puisi Pablo Neruda: Duta Besar, Kemalasan, Bintang-Bintang

Art: flickr.com

LAMBAT

 

Tuan Rodríguez yang cekatan

bukanlah kawanku:

Nyonya kunang-kunang Aguda

bukan kekasihku yang bersuara manis:

untuk berjalan di langkah kuningku

seseorang harus hidup di dalam

benda padat:

lumpur, kayu, kuarsa,

logam,

bangunan-bangunan bata:

seseorang harus tahu bagaimana menutup matanya

di bawah sinar matahari,

untuk membukanya di tempat teduh,

untuk menunggu.

TERJADILAH

 

Mereka mengetuk pintuku pada tanggal enam Agustus:

tak ada yang berdiri di sana

dan tak ada yang masuk, duduk di kursi

dan menghabiskan waktu bersamaku, tak ada siapa-siapa.

 

Aku tidak akan pernah melupakan ketidakhadiran itu

yang memasukiku seperti orang memasuki rumahnya sendiri,

dan aku puas pada ketiadaan:

kekosongan yang terbuka untuk segalanya.

 

Tak ada yang menanyaiku, tak ada perkataan apa-apa,

dan aku menjawab tanpa melihat atau berbicara.

 

Sungguh percakapan yang luas dan istimewa!

CABANG

 

Cabang akasia, mimosa,

matahari harum musim dingin yang mati rasa,

Aku berbelanja di pameran Valparaiso

dan dengan akasia dan baunya yang manis

melanjutkan ke Isla Negra.

 

Kami menyeberang dalam kabut,

ladang kosong, semak berduri,

tanah dingin Chili

(di bawah langit ungu

jalan raya yang mati).

 

Dunia akan menjadi pahit

dalam perjalanan musim dinginnya, dalam keabadian,

di senja yang tak berpenghuni,

jika aku tidak ditemani,

setiap saat dan setiap waktu,

oleh kesederhanaan

cabang kuning yang hakiki.

DUTA BESAR

 

Aku tinggal di gang di mana setiap kucing dan anjing

di Santiago, Chili,

datang untuk buang air kecil.

Pada 1925 .

Aku mengurung diri bersama puisi

yang membawaku ke Taman Albert Sarnain,

ke Henri de Regnier yang mewah,

ke kipas biru Mallarme.

 

Tak ada yang lebih baik dari air seni

ribuan anjing pinggiran kota

daripada kristal imajinatif

dengan inti sari murninya, dengan cahaya dan langit:

jendela Prancis, taman yang dingin

di mana patung-patung suci

–pada 1925–

sedang bertukar baju marmer,

patina mereka dihaluskan dengan sentuhan

dari banyak abad yang anggun.

 

Di gang itu, aku bahagia.

 

Lama setelah itu, bertahun-tahun kemudian,

aku kembali sebagai Duta Besar untuk Kebun-Kebun.

 

Para penyair sudah pergi.

 

Dan patung-patung itu tak lagi mengenaliku.

DI SINI

 

Aku datang ke sini untuk menghitung lonceng

yang hidup di permukaan laut,

suara di atas laut itu,

di dalam laut.

 

Jadi, di sinilah aku tinggal.

Jika setiap hari jatuh

ke dalam setiap malam,

di sana ada sumur

di mana kejernihan terkunci.

 

Kita harus duduk di tepi

sumur kegelapan

dan dengan sabar

memancing cahaya yang jatuh.

SEMUA ORANG

 

Aku, mungkin aku tidak akan pernah, mungkin aku tidak bisa,

tak pernah ada, tak pernah melihat, tak ada:

apa maksud semua ini? Pada bulan Juni keberapa, pada kayu apa

aku tumbuh sampai sekarang, dilahirkan dan terus dilahirkan kembali?

 

Aku tidak tumbuh, tidak pernah tumbuh, terus mati?

 

Di ambang pintu, aku mengulangi

suara laut,

lonceng-lonceng:

Aku bertanya pada diriku sendiri, dengan heran,

(dan kemudian dengan tangan gemetar),

dengan lonceng-lonceng kecil, dengan air,

dengan rasa manis:

Aku selalu datang terlambat.

Aku telah melakukan perjalanan jauh dari diriku,

aku tidak bisa menjawab pertanyaan tentang diriku sendiri,

aku terlalu sering meninggalkan diriku.

 

Aku pergi ke rumah berikutnya,

ke perempuan berikutnya,

Aku bepergian ke mana-mana

bertanya-tanya tentang diriku sendiri, tentangmu, tentang semua orang:

dan ketika aku tidak ada di sana, tak ada seorang pun,

semua tempat kosong

karena bukan hari ini,

melainkan esok.

 

Mengapa mencari dengan sia-sia

setiap pintu di mana kita tidak akan ada

karena kita belum tiba?

 

Begitulah caraku mengetahuinya

Bahwa aku mirip sepertimu

dan seperti semua orang.

KEMALASAN

 

Aku tidak pernah bekerja pada hari Minggu,

tapi aku tidak pernah mengaku sebagai Tuhan.

Aku tidak pernah bekerja dari Senin sampai Sabtu,

karena kebetulan aku adalah salah satu makhluk yang malas:

Aku puas menonton jalanan

di mana semua orang bekerja, menangis,

pemotong batu, pejabat, orang-orang

dengan alat-alat atau dengan kementerian.

 

Aku memejamkan mata sekaligus, sekali dan untuk semuanya,

sehingga aku tidak akan menghadapi hutang-hutangku:

itulah kenapa

aku terus berbisik pada diriku sendiri

di semua tenggorokanku,

dan dengan seluruh tanganku

Aku dibelai dalam lamunanku

oleh kaki-kaki wanita saat mereka bergegas lewat.

 

Kemudian aku minum anggur merah Chili

selama dua puluh hari sepuluh malam.

Aku minum anggur berwarna merah itu

yang berdetak di dalam diri kita dan menghilang

di tenggorokanmu seperti ikan di sungai.

 

Aku harus memberi tambahan pada pengakuan ini

bahwa setelah ini aku tertidur, tertidur dan tertidur,

tanpa meninggalkan cara jahatku

dan tanpa penyesalan:

Aku tertidur nyenyak, seolah-olah hujan turun

sebentar-sebentar

di atas semua pulau-pulau

di dunia ini,

menusuk peti mimpi-mimpiku

dengan air surgawi.

NAMA-NAMA

 

Oh, Eduvigis, kau punya nama

yang indah, wanita dengan hati biru:

itu adalah nama untuk seorang ratu

yang sedikit demi sedikit memasuki dapur

dan tidak pernah kembali ke istana.

 

Eduvigis

terbuat dari suku kata yang dipelintir bersama-sama

seperti kepang bawang putih

yang menggantung di kasau.

 

Jika mata kami mengikuti namamu di malam hari,

Hati-hati! sangat berkilauan

seperti tiara yang diambil dari abu,

seperti bara api hijau

yang tersembunyi dalam waktu.

KAMI MENUNGGU

 

Ada hari-hari yang belum tiba,

yang sedang dibuat

seperti roti atau kursi-kursi atau produk

dari apotek atau toko kayu:

ada pabrik hari yang akan datang:

mereka ada, pengrajin jiwa

yang mengangkat dan menimbang dan mempersiapkan

hari-hari pahit atau indah tertentu

yang tiba tiba-tiba di pintu

untuk menghadiahi kita sebuah jeruk

atau langsung membunuh kita.

BINTANG-BINTANG

 

Di sana, di sana, lonceng berbunyi:

dan ke arah itu orang banyak melihat

hal biasa, malam biru Chili,

denyut bintang-bintang pucat.

 

Lebih banyak orang datang, mereka yang belum pernah melihat

belum pernah sampai sekarang apa yang menahan

langit setiap hari dan setiap malam,

dan banyak lagi, lebih banyak lagi, begitu banyak yang kagum,

dan mereka semua bertanya, di mana, di mana?

 

Dan lonceng berbunyi, dengan kesabaran yang luar biasa,

menunjuk ke malam berbintang,

malam yang sama seperti malam-malam lainnya.

*Dari buku puisi Pablo Neruda berjudul El mar y las campanas yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Sea and the Bells oleh William O’daly 1988, 2002: Copper Canyon Press.

Tentang Pablo Neruda

Pablo Neruda (12 Juli 1904 - 23 September 1973), dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi surealis, epos sejarah, hingga politik. Gabriel García Márquez menyebutnya "penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apa pun". Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.

Tentang Penerjemah

Kala Lail. Lahir 1996. Tinggal di Kab. Semarang Jawa Tengah. Mendirikan dan bergiat di Komunitas Lintasastra Salatiga. Menyelesaikan studi di IAIN Salatiga.

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!