Puisi-Puisi Pablo Neruda: Kota dan Seluruh Bumi Manusia Berdarah

Art: @illustratorxinuo

KOTA

 

Pinggiran kota dengan gigi busuk

dan dinding-dinding lapar

dipenuhi poster compang-camping:

sampah berserakan,

mayat

di antara lalat musim dingin

dan kotoran:

Santiago,

kepala negaraku

diikat ke pegunungan yang besar,

ke kapal salju,

warisan yang menyedihkan

dari abad wanita mewah

dan tuan-tuan dengan janggut putih,

tongkat jalan yang dipoles, topi perak,

sarung tangan yang melindungi dari cakar elang.

 

Santiago, yang diwariskan,

kotor, berdarah, ludah di trotoar,

sedih dan terbunuh

kita mewarisinya

dari tuan-tuan dan harta mereka.

 

Bagaimana kami akan mencuci mukamu,

kota, hati kita sendiri,

putri malang,

bagaimana kami

memulihkan kulitmu, musim semimu,

wewangianmu,

bagaimana kami bisa hidup dengan hidupmu?

atau menyalakan apimu,

atau menutup mata kami dan menyingkirkan kematianmu

hingga kau bernapas lagi dan mekar

dan bagaimana kami memberimu tangan-tangan baru dan mata baru,

rumah-rumah manusia, bunga-bunga dalam terang!

Sesuatu mengetuk pintu batu

di pantai, di pasir,

dengan banyak tangan air.

Batu itu tidak merespon.

 

Tidak ada yang akan membukanya. Mengetuk sama dengan membuang-buang air,

buang-buang waktu.

Tetap saja, sesuatu mengetuk,

berdetak,

setiap hari dan setiap tahun,

setiap abad dari berabad-abad.

 

Akhirnya sesuatu terjadi.

Batunya berbeda.

 

Sekarang batunya memiliki lekukan halus seperti payudara,

memiliki saluran tempat air mengalir,

batunya tidak sama sekaligus sama.

Di sana, di mana terumbu karang paling kasar,

ombak mendaki dengan mulus di atas pintu

bumi.

Maafkan aku jika mataku melihat

tidak lebih jelas daripada buih laut,

tolong maafkan karena wujudku

tumbuh keluar tanpa izin

dan tak pernah berhenti:

kemonotonan adalah laguku,

kataku adalah burung bayangan,

fauna batu dan laut, kesedihan

planet musim dingin, tidak fana.

Maafkan aku atas rangkaian air ini,

batu, buih, air pasang

delirium: ini adalah kesepianku:

garam tiba-tiba melompat ke dinding

keberadaan rahasiaku, sedemikian rupa

seakan-akan aku adalah bagian

dari musim dingin,

dari hamparan datar yang sama yang berulang

dari lonceng ke lonceng, dalam gelombang demi gelombang,

dan dari keheningan seperti rambut wanita,

keheningan rumput laut, lagu yang tenggelam.

Seluruh bumi manusia berdarah.

Waktu, gedung, jalanan, hujan,

menghapus konstelasi kejahatan,

faktanya, planet kecil ini

telah berlumuran darah ribuan kali,

perang atau balas dendam, penyergapan atau pertempuran,

orang jatuh, mereka dimakan,

dan kemudian dilupakan terhapus bersih

setiap meter persegi: dulunya

adalah monumen kebohongan yang samar,

terkadang pasal dalam perunggu,

lalu percakapan, kelahiran,

kotamadya, dan kemudian dilupakan.

Seni apa yang kita miliki untuk pemusnahan

dan ilmu apa untuk melenyapkan ingatan!

Apa yang berdarah ditutupi dengan bunga.

Sekali lagi, para pemuda, persiapkan dirimu

untuk kesempatan lain untuk membunuh, untuk mati lagi,

dan untuk menyebarkan bunga di atas darah.

Thrush berkicau, burung suci

dari ladang-ladang Chili:

memanggil, memuji,

menulis di atas angin.

Ia datang lebih awal,

ke sini, dalam musim dingin, di pantai.

Cahaya merah berlama-lama di cakrawala

seperti strip tipis bendera

terbang di atas laut.

Kemudian warna biru menyerbu langit

sampai semuanya terisi biru,

karena itu adalah tugas harian,

roti biru dari setiap hari.

Apakah ada laut di sana? Katakan padanya untuk masuk.

Bawa aku

lonceng besar, salah satu ras hijau.

Bukan yang itu, yang lain, yang punya

celah di mulut perunggunya,

dan sekarang, tak lebih, aku ingin sendiri

dengan laut esensialku dan lonceng.

Aku tidak ingin berbicara lama,

kesunyian! Aku masih ingin belajar,

aku ingin tahu apakah aku ada.

PENUTUP

 

Matilde, tahun-tahun atau hari-hari

tidur, demam,

di sini atau di sana,

menatap,

memutar tulang belakangku,

berdarah darah sejati,

mungkin aku terbangun

atau aku tersesat, tidur:

tempat tidur rumah sakit, jendela asing,

seragam putih pejalan kaki yang pendiam,

kecanggungan kaki-kaki.

 

Dan kemudian, perjalanan ini

dan laut pembaruanku:

kepalamu di atas bantal,

tangan-tanganmu melayang

dalam terang, dalam terangku,

di atas bumiku.

 

Begitu indah untuk hidup

ketika kau hidup!

 

Dunia lebih biru dan bumi

di malam hari, saat aku tidur

lelap, berada dalam tangan-tangan kecilmu.

*Dari buku puisi Pablo Neruda berjudul El mar y las campanas yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Sea and the Bells oleh William O’daly 1988, 2002: Copper Canyon Press.

Tentang Pablo Neruda

Pablo Neruda (12 Juli 1904 - 23 September 1973), dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi surealis, epos sejarah, hingga politik. Gabriel García Márquez menyebutnya "penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun". Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.

Tentang Penerjemah

Kala Lail. Lahir 1996. Tinggal di Kab. Semarang Jawa Tengah. Mendirikan dan bergiat di Komunitas Lintasastra Salatiga. Menyelesaikan studi di IAIN Salatiga.

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!