Puisi-Puisi Pablo Neruda: Kucing Nokturnal dan Bencana

Art: Vanessa Stockard

PENYATUAN

 

Bagaimanapun juga, aku akan mencintaimu

seperti sebelumnya,

seperti telah sekian lama menunggu,

tanpa melihatmu dan kau tidak datang,

kau bernapas selamanya

di dekatku.

 

Dekat denganku dengan kebiasaan-kebiasaanmu

dengan warna dan gitarmu

sebagaimana negara-negara yang bersatu

dalam pelajaran sekolah

dan dua wilayah pudar

dan ada sungai di dekat sungai

dan dua gunung berapi tumbuh bersama.

 

Dekat denganmu adalah dekat denganku

dan ketiadaanmu jauh dari segalanya

dan bulan adalah warna tanah liat

di malam gempa bumi

ketika, dalam kengerian bumi,

semua akar menyatu

dan keheningan berdering

dengan musik ketakutan.

Ketakutan juga merupakan sebuah jalan.

Dan di antara kelembutan batu-batunya

yang menakutkan

entah bagaimana mampu berbaris

dengan empat kaki dan empat bibir.

 

Sebab, tanpa meninggalkan masa kini

yang merupakan cincin rapuh,

kita menyentuh pasir kemarin

dan di laut, cinta mengungkapkan

kegairahan yang berulang.

KUCING NOKTURNAL

 

Seekor kucing memiliki banyak bintang,

mereka bertanya kepadaku di Paris,

dan aku, harimau demi harimau, mulai

mengamati rasi bintang:

karena dua mata yang mengawasi

adalah denyut Tuhan

di mata dingin kucing

dan dua sambaran petir pada harimau.

 

Tapi bintang adalah ekor

seekor kucing berbulu di langit

dan harimau batu biru adalah

malam biru Antofagasta.

 

Malam kelabu Antofagasta

naik dari sudut

seperti kekalahan telak

atas kelelahan bumi

dan itulah kenyataannya, gurun

adalah wajah malam yang lain,

begitu tak terbatas, belum dijelajahi,

seperti ketiadaan bintang-bintang.

 

Dan di antara dua piala jiwa

mineral-mineral berkilau.

 

Aku tidak pernah melihat kucing di gurun:

tapi kenyataannya, aku tidak pernah

tidur dengan siapa pun

kecuali pasir-pasir malam,

seluk-beluk gurun

atau bintang-bintang di luar angkasa.

 

Karena mereka tidak seperti itu dan mereka

adalah penemuan sederhanaku.

MENOLAK PETIR

 

Petir, kau mengikatku

pada lambatnya pekerjaanku:

dengan peringatan ekuinoks

dari ancaman fosfatmu

aku mengumpulkan pilihanku,

menyerahkan apa yang bukan milikku

dan menemukan di kakiku dan di mataku

kelimpahan musim gugur.

 

Kilat mengajariku untuk tenang,

untuk tidak kehilangan cahaya di langit,

untuk mencari di dalam diriku sendiri

sebuah galeri Bumi,

untuk menggali di tanah yang keras

hingga menemukan dalam kekerasan itu

situs yang sama, dalam penderitaannya,

meteor itu masih mencari.

 

Aku belajar bahwa kecepatan

harus meninggalkannya di luar angkasa,

dan untuk mempelajari kelambatanku

aku membentuk sekolahan yang sembrono

seperti kumpulan ikan

yang sehari-hari meluncur dan

berkembang di antara ancaman-ancaman.

 

Ini adalah ragam dasar bawah,

dari manifestasi bawah laut.

 

Dan aku tidak percaya bahwa aku akan mengabaikannya

karena beberapa hukum terkutuk:

dengan sinyal berkedipnya masing-masing,

dengan apa yang ada di dunia,

dan aku berpegang pada kebenaranku

karena aku tak memiliki kebohongan.

BENCANA

 

Ketika aku tiba di Curacautin

terjadi hujan abu

karena kehendak gunung berapi.

 

Aku harus memutar ke Talca

di mana mereka tumbuh begitu luas,

sungai-sungai Maule yang tenang itu,

aku tertidur di atas kapal

dan menuju ke Valparaiso.

 

Di Valparaiso rumah-rumah

roboh di sekitarku

dan aku sarapan di reruntuhan

perpustakaanku yang hilang

di antara Baudelaire yang masih bertahan

dan Cervantes yang telah dibongkar.

 

Di Santiago pemilihan umum

mengusirku dari kota:

semua orang meludahi wajah satu sama lain

dan menurut para wartawan,

orang adil ada di langit,

dan di jalanan, hanya ada pembunuh.

 

Aku mendirikan tempat tidurku di dekat sungai

yang membawa lebih banyak batu daripada air,

di sebelah beberapa pohon ek yang tenang,

jauh dari semua kota,

di sebelah batu-batu yang bernyanyi,

dan akhirnya aku bisa tidur dengan tenang

dalam ancaman tertentu dari sebuah bintang

yang mengawasiku dan mengedipkan mata

dengan beberapa desakan yang berbahaya.

 

Tapi pagi yang lembut

melukis malam hitam biru

dan bintang-bintang musuh

ditelan cahaya

sementara aku bernyanyi dengan damai

tanpa bencana dan tanpa gitar.

KENANGAN PERSAHABATAN

 

Dia sangat keras kepala

temanku Rupertino,

ia selalu mengabdikan sifatnya yang tidak mementingkan diri sendiri

pada perusahaan yang sia-sia:

ia menjelajahi kerajaan-kerajaan yang telah dijelajahi,

memproduksi jutaan lubang kancing,

membuka klub untuk janda-janda heroik

dan menjual asap dalam botol-botol.

 

Sejak kecil aku bermain Sancho

melawan teman murungku:

aku berdebat dengan sekuat tenaga dan akal sehat

seperti seorang bibi yang protektif

ketika ingin menanam pohon jeruk

di atap-atap Notre Dame.

Kemudian, ketika ia menderita,

aku meninggalkannya di industri baru:

“Perahu Peti Mati”, “Perahu Motor Sarkofagus.”

supaya diduga bunuh diri:

kesabaranku telah habis

dan aku menyingkirkan ia dari hidupku.

 

Ketika temanku terpilih sebagai

Presiden Kostaragua

ia menunjukku sebagai generalissimo

yang bertanggung jawab atas wilayahnya:

ia memerintahkanku untuk menyerang

kerajaan kopi

yang dipimpin oleh raja-raja fanatik

yang mengancam keberadaannya.

 

Karena kelemahan karakter

dan persahabatan lama dan kekanak-kanakan

aku menerima beberapa ikat pinggang dengan medali

dan dengan empat puluh sukarelawan yang enggan-engganan

aku maju melintasi perbatasan.

 

Tak ada yang tahu apa itu menelan

debu kekalahan:

antara Marfil dan Kostaragua,

pasukan tempurku yang tangguh

meleleh dalam panas

dan aku ditinggalkan sendiri, dikelilingi

lima puluh raja fanatik.

 

Aku kembali dengan penyesalan dari perang:

dicopot dari gelar Jenderal.

Aku mencari temanku yang pemurung:

tak ada yang tahu di mana ia berada.

 

Kemudian, aku menemukannya di Kanada

menjual bulu pinguin

(burung terindah yang tak berbulu)

(yang sama sekali tak penting

bagi kawanku yang keras kepala).

 

Di hari yang paling tidak kau harapkan,

ia mungkin muncul di depan pintumu:

percayai semua yang ia katakan padamu

karena setelah semua yang telah dikatakan dan dilakukannya

ia adalah orang yang selalu benar.

*Dari buku puisi Pablo Neruda berjudul El corazón Amarillo yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Yellow Heart oleh William O’daly 1990: Copper Canyon Press.

Tentang Pablo Neruda

Pablo Neruda (12 Juli 1904 - 23 September 1973), dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi surealis, epos sejarah, hingga politik. Gabriel García Márquez menyebutnya "penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun". Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.

Tentang Penerjemah

Kala Lail. Lahir 1996. Tinggal di Kab. Semarang Jawa Tengah. Mendirikan dan bergiat di Komunitas Lintasastra Salatiga. Menyelesaikan studi di IAIN Salatiga.

Bagikan tulisan ini:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on tumblr
Share on telegram
Share on linkedin

Kirim Naskahmu

Kami menerima naskah cerpen, puisi, cerita anak, opini, artikel, resensi buku, dan esai

TERPOPULER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Contact Info

Copyright © 2022. All rights reserved.

error: Content is protected !!